Tentang diri

Foto Saya
Ibnu Sobri
Kedah, Malaysia
Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Lihat profil lengkap saya

Blog

16 April 2009

Bangun

0 comments

















oh!
berat dugaanMu.
kini kudalam
langkahan melaluinya.
ya!
sungguh berat sekali
kepercayaan ini,
andai dibuang
diletak tepi.
tidak tahu lagi
dimana hendak
dibawa diri.
kerna malu
tak terlindung lagi.
maka hanya kemahuan
yang mampu bersuara.
memberi semangat
dorongan
agar hidup.
kerna andai dimakan
apa dijanji.
kelak sirna diri
menjadi abu
dituip api.
YA!
kerna tak mampu menanggung,
dan hina diri tak berpenghujung,
maka tunduk wajah
padaMu
tempat ku menyuarakan hasrat hati.
selamanya.
Ya selamanya.
Seharus selamanya.
Read more

14 April 2009

Buang

1 comments















Maka layakkah daku
berada di persimpangan
yang padanya gelap malam
samar-samar terangnya
suluh dek sang bulan.

Maka pada jejak itu
setiap bicara bakal bersaksi
bahwa kebenaran kelak
menang atasnya yang batil.

Maka layakkah
tikam lidah pada
benda yang asasnya teguh.
Kerna bisa saja
fitnah ini merebah
kesatuan yang dulunya gah
ikatan yang dulunya mesra.

Andai terus beda paham
memusnah yang suci
kerna yakinlah benar tetap
pada bangunnya
dan selamanya.
Maka mengerti paham
hendak teguh pada yang nyata
bukan pada dasar lemah
akal mentafsir
dan bukan kerna
ego bawa diri selamanya.
Kerna takkan masuk diriku
selamanya ingin yang rugi.

Kerna rugi disana tak berkembali lagi.....

p/s: Quran 17:81. Maka ini benar! Dan kelak kita akan menyaksi! Maka tunggu engaku kerna aku akan terus menunggu.....
Read more

09 April 2009

Bila

1 comments
Bila,
Jalan kaki melangkah
ke hadapan,
tak bisa pusing
pandangan ke belakang:
walau manis ia,
walau pahit ia.
Kerna depan bukan milik sendiri
bahkan buta diri
andai toleh tak berkembang
dan cakap tak bersempadan.
Read more