Tentang diri

Foto Saya
Ibnu Sobri
Kedah, Malaysia
Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Lihat profil lengkap saya

Blog

29 November 2009

Ini Bukan Masa Menangisi

0 comments
andai kata hidup tak punya usia,
maka bicara ini tak bisa keluar
dari lidah yang rasanya tak bisa kelu,
tapi malah akan terus diam.
kerna saksi itu payah yang sangat.
dan dari kejauhan cuma memahami
derita alami orang yang membawa sinar
sampai ke hati.
ya, masakan mengerti lagi apa erti
air mata yang mengalir tak bisa
bayar pedih yang menyucuk dalam jiwa.
kerna kau yang mengalami dahulu.
itu sudah pasti.
tapi masakan,
jika tidak begitu,
mungkin sukar kau berkata:
"kami redha kepadaMu,
dan Aku reda kepada kamu".
gelaran termulia,
angkatan darjat tertinggi.
moga aku turut sama meraihnya.
Insyaallah!
Read more

Kehidupanku (My Life)

0 comments
dalam usang yang menekun dipinggiran,
maka sinarnya menyapa buat sang duka.

kerna kau pemilik cahaya,
maka gelar yang itu sudah pasti buat diri tertanya.
"manakah dikau?"
hilang dalam dakapan kisah yang lalu.

hendak punya saja sinar yang padanya milikmu.
bukan kerna nama,
tapi kerna pada hati yang merasa,
tertarik terpikat pada indah suatu yang luhur,
dan padanya kedapatan buahan yang lebat merimbun.
dan juga pada sama tidak serasi malah hampir serupa.
masakan.

"Kerna baik seorang sebelum jahiliyah,
baik lagi ia pabila menyahut ia sinaran iman",
maka bahagia bulan yang dimuliakan,
tidak banyak malah harapan terus dijulang,
agar ikat yang benar terdetik pada hati yang sudah kenal
makna kehidupan;
akur pada yang Kuasa,
bantu sesama manusia.
"agar terdetik.
agar menerima."
panjatku agar diperkenan.

II

walau hampir saja kehabisan bekalan,
kerna ini perjalanan yang panjang.
maka kuturutkan langkah,
menyaksi buat hati merintih,
lihat suatu padanya memapar sinar harapan.
tapi tidak,
maaf dipermula pada setiap bicara
yang mendatang,
sebab memahami,
kerna mengerti,
walau cuba menyendiri.
itu air muka yang bisa faham yang pasti saja
buat hati berduaka sama,
tapi kerna pilih bukan kerna simpati,
dan tahu itu kelemahan dalam diri,
maka sayu tunduk kau merasa rendah
tak bisa memaparkan segalanya.
jadi jangan terus merasa hina.
kau punya cukup sebagaimana semua.

***
Read more

19 November 2009

Kabur kabus...

0 comments
Harap ini hari yang pasti ku ingat.
Walau diri yang lembut kau simpan,
harap tunjuk kasar tak bisa
hilang hati terbentuk buat detik
yang manisnya sangat diri cita.

Batasan itu sudah tetap
dan tak bisa kau sentuh,
walau andai lebih kekadang sukar
kawal kau suatu yang liar,
atau mungkin kerna kurang didikan.
perlu teguh dan lurus lagi hendaknya...

Wahai diri yang bimbang kau
pada serong perjalanan panjang.
kerna hujungnya belum tiba,
malah tahu tidak bila sampainya.
Andai tahu kau erti manis,
pasti tak bisa lagi kau cerita,
atau berduka andai kau suka.
jadi, mana pilihan,
sedang telah pilih,
dan berkata selalu kau dalam
suara hati yang kecil.
permintaan ini rasanya,
tak payah,
jangan mengalah,
diri yang susah.

***

Wahai tuju yang dinanti,
harap enggan lagi kau kembali,
sedang pintu itu telah jelas terbuka.
ingat kau detik ini
andai pelajaran tagih kau
buat bermakna sebagai bekal.
wahai tuju yang dinanti,
harap belenggu ini,
bisa terus ku gerak pada
hala yang aku sangat suka.
wahai tuju yang arahku padanya,
harap tidak terlupa,
destinasi bukan ukuran,
malah detik perjalanan itu yang
akan disoal.
dan tidak kabur pada asbab,
malah andai hilang dia,
akan terus jua harap
tuju yang kau dambakan.
Read more