Tentang diri

Foto Saya
Ibnu Sobri
Kedah, Malaysia
Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Lihat profil lengkap saya

Blog

03 Oktober 2010

Pada noktah yang tiada berlabuh pergi.

0 comments
enak pada hirup segar udara ini. buat hayun diri,
pada kelibat yang sudah. bahwa andai ia berhenti.
maka kembali akan. itu janji yang pasti. kerna
sedar tidak, maka alunan ini kukabar-kan. buat
sesal itu agar ia terus bergolak ia di dalam. agar
gerun terbit dari hati yang bisa lihat. suatu yang
jelas tetapi kekadang tidak tercarik akal untuk
menerimanya. ooo pergi itu harungi yang pasti.
kerna pabila tamat bertemu dengan kelibat yang
berair. maka takut itu diserbu, dan yakin itu hadir.
kerna telah terlihat bahwa fatamorgana ini akan
berakhir. maka selama bernyawa. hanya khayalan
bermain pada tuntun indera. maka pabila realiti
mekar ia pada tepat akal yang saksama. pasti bisa
saja diri hilang upaya. lemah berdiri sendiri. runtuh
segala harapan. maka harap bekal ini dapat ku
tanam subur dalam jiwa. yang pada noktah yang
tiada berlabuh pergi. maka tetap ia tepat pada
waktunya....



***
Read more

02 Oktober 2010

Pujangga di tepian.

0 comments
oh, berlabuh pada tepian yang tak mengerti. maka
pada kekok tampil diri bawa usaha. bahwa yang
berlalu bisa pergi, tapi pada hujung benak hati ini
calar itu gagal ku ubati. maka pada rintihan ku
menyepi bahwa kelak akan damai semua ini. maka
pada jernih air yang mengalir, bisa diketuk suatu
yang keras ia pada sifatnya. maka selagi hirup udara
ini, harap diri itu terus ku kata. dalam diam bahwa
supaya masa itu bisa bawa jiwa pada sempadan
yang ku bisa gapai. dan pada kecelaruam calaran
yang masih berdarah, henti ia pada tamat masanya
berhenti. kerana tidak dipinta, andai terus hujanan,
kisahku bersama fitan takkan sudah. kerna kehidupan
ini sendiri suatu fitan. ooo... kesilapan yang lalu
harap takkan berulang. tapi masakan. kerna lemah
kehendak dan kurang daya. dan ku insan mengerti
tidak. masakan berlalu maka noda itu terus bawa
diri mengauli kegelapan. ooo, sentak hati yang takkan
ketakutan. maka kelak keras raja diri itu, cuba
sedaya ku elak. kerna andai kali ini gagal kutepis.
maka kelak bisa saja diri runtuh, punah pada harapan
semalam. ooo, aku yang bersaksi, maka enak itu
cuba ku selidiki. kerna yang pasti tetap berlaku. dan
yang segala yang suram tak bisa terjadi andaikata
tidak tulis ia pada kalam. ooo... diriku yang hina.

***
Read more

26 September 2010

Berlabuh pergi...

0 comments










maka lambunan ini sampai ke penghujungnya.
andai dinanti, bisa pergi. dan andai dicari, pergi
dia menghilangkan diri. maka dimana tampak
sudah enak. maka ini bukan tempatnya. sesekali
mesra rasa dingin dalam hati. tidak bisa buat kau
rasa cukup dengannya. umpama air masin, ditelan
lagi datang dahaganya. maka berlabuh lagi, maka
ini suratannya. kerna tidak layak, maka dalam
kerendahan ku perlu bergerak sama. sebagaimana
awan lemah gemalai sentak gerak dengan gemersik
suara si angin yang layu... oh enak diperhati... kekok
pula apabila bersaksi.

maka dalam madah akan ku berlabuh lagi. dimana
labuhan kali ini bisa bawa ku kemari. tidak kutahu
dimana jadinya. kerna layar ini bisa hancur di
tengah jalan. masakan ribut pula berhempas, lalu
tenggelamkan segalanya. jadi apabila layaran disoal
sama ia dengan tempat berlabuh. maka jutaan hikmah
yang bisa tumbuh akal dengan saksama itu yang kupinta.
Oh... sesekali hatiku gerun, tenang tidak fikiran bermain
dengan buih2 yang pergi. kerna tempat kucari tak pernah
kutemui. dan sempit hati terasa tak pernah kumaklumi.
kerna andai ditelan sahaja tidak cukup. kerna gapai
perlu kau sisanya. agar segalanya berbuah bahagia...
ooo pada ufuk ku perhatikan yang disana masih ada
harapan. pada merah nyalaan kecintaan maka sang
mentari pergi. yang gemerlap dengn suci cahayanya
maka sang purnama bersuara... oh megah kepada
kepada mereka yang tunduk! penyaksian dalam hati yang
tak sudah. hirup udara dinanti, maka syukur bertasbih
tak kenal sempadannya. dan darjat diraih. tinggi
melangit dari apa yang dicita. maka diri kini cuba belajar...
mengenal madah dalam dakapan hati yang sengsara.
bahawa segala bakal dipertanggungjawabkan!...



***
Read more