Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
26 Disember 2011
buntu idea.
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 comments06 Disember 2011
kata2.
Posted by Ibnu Sobri at 11:30 PTG 0 commentsajar daku yang kata2 permainan jiwa. terkadang layu pada selok lembut ia menyapa. pada detik berbeda, dapat lurus suatu yang bengkok, hal-nya semata kerna kata. jadi ke-mana harus budi ini tadahan ia pada maksud yang sebenar, maka telah daku pasrah ia agar selalu diri terpimpin. namun, ternyata kekadang sukar nyata pimpin akan diri pada laluan sepatutnya. terkadang kurang daya, maka lemah kaku diri pada suatu sudut. maka hilang punca buat diri menadah, maka hangus diri pada hangat hati membara. ooo... ku mengimpi akan kata yang sejuk hati pabila deria bersuara. suatu janji. bahwa yang akan berlaku maka jelas masa akan peristiwa-nya. pada kalam yang bernyawa pada hati2 yang tadah mereka harapan... bahwa ternyata faham ia akan jiwa yang telah sinari dengan kebenaran. namun, itu hanya seketika. maka menunggu daku tiba kembali jajahan yang agung tadbir sebagaimana rentetan yang lalu. bahwa dengan-nya, maka bermegah kata2 dengan kalam yang kembali jadi ia peta buat mengisi haluan yang mengisi...
***
27 Oktober 2011
Dalam yang dalam...
Posted by Ibnu Sobri at 12:06 PG 0 comments
andai hati dan jiwa dikuasai oleh emosi dengan megah.
dan turut diri pada hujung jurang yang dalam...
kemanakah??? harusnya dilepas segala perasaan.
andai ku nanti, maka jawapan telah lama ku sengsara
mencarinya. ketemu tidak malah butuh aku pada
kemarau hati yang berpanjangan. dari-manakah???:
" NOMAD
Salah siapa?
Bila dengar jadi tuli,
Lihat jadi buta,
Diam jadi bising,
Suka jadi dendam.
Salah engkau atau salah dia?
Lalu kemarau hati ini terus kontang,
Tanpa kedinginan air penjelasan,
Yang bisa merubah merah marah.
Segala sindiran serong,
Jelingan jelik,
Dusta durjana,
Bisa aku patah dan pendam,
Selagi tembok kesabaran belum luluh lebur,
Akibat panas hati yang terbakar.
Tapi saat itu pasti tiba,
Tika bara hati meledak,
Melemparkan segala kegusaran,
Melepaskan segala kesedihan,
Kerana aku masih di sini.
Ramadhan 1426 "
***
08 Jun 2011
Persimpangan
Posted by Ibnu Sobri at 11:15 PTG 0 commentsjalan itu perhati aku tak sudah. bersama kesesatan yang mengaburi pandangan mata. maka telah jelas yang ini bukan pilihan mudah. kerana kenangan tak bisa padam. dan kenal sudah aku akan kesal ini tak bersempadan. mana mungkin dengan mudah aku mampu laksanakan dengan saksama. maka di mana rayu hati ini terus menadah tangan dalam tangis meminta kembali. kerna kepulangan itu bukan suatu yang mudah dan temui pula aku akan persimpangan yang ragu2 aku akan bersih jalannya. maka dengan payah aku merenungi setiap genap kesilapan diri yang terampun. maka digamit dengan keresahan yang aku ini selamanya tak bisa lari darinya. maka tergamit erti kesedaran yang gelap akan laluannya. maka dimana dicari makna yang sembilu itu sudah pergi menjauh diri. mengapa aku terpisah pada sempadan masa yang tak dapat aku merentasinya. dan mengapa bermain minda dengan soalan yang sudah aku pasrah akan kehendak dengan jawapan yang pudar. dan mengapa perlu ku guris luka yang suatu ketika dahulu telah parah. mungkin kerna bermula kembali itu suatu yang payah. terbit pada embun pagi maka matahari yang mula menyinari sinarnya tidak dapat lagi kurasa. dan keindahan semakin melanjut pada usia dan semestinya telah lama pergi buat sekian masa. maka mana erti kebahagiaan andai kata kunanti. kerna pencarian itu tak pernah kucita. mungkin kerna pada perbatasan aku ini tidak arif pada erti dan makna pabila keduanya bermain di depan mata. kerna rasional itu telah menjadi hijab pada setiap laluan noktah pemikiran ini dicerna...
30 Julai 2010
Bukti
Posted by Ibnu Sobri at 2:23 PTG 0 commentskerna tak ketahui aku mana jalan tamatnya,
dan dimana ia bakal berlaku.
kerna selagi hirup ku udara kedamaian
dam hati yang diluarnya bagai taufan
yang meribut, maka akan ku katakan
bahwa saksiku bukti2 yang nyata,
walau lemah diri sering saja bawa
belenggu diri ke lembah hina.
maka bukti2 yang bermain pada indera
menjadi madah mengenal bahwa dia
sering memberi rasa dalam sedar
hati yang kadang2 alpa mengingati
dan membesar padanya empunya kuasa.
maka sepanjang kembara ini ku turuti
laluan yang padanya kekadang sempit terasa,
maka bayangan bukti2 itu sering saja
membuat diri serba salah. kerna pada
akal diri bertepi, tapi pada pandangan
ia membuka peluang untuk diri meresap
cahaya, selamanya mengadah.
maka bukti2 telah menjadi saksi
bawa akan hadir tiba jua masa yang
sering kita tinggal dibelakang. dan bahwa
Dia selamanya mengaharapkan yang
hambanya akan mengikuti apa yang
telah dimaklumi ia akan sedikit
pengetahuan yang ghaib. tapi terlepas
Dia dari kehendak pada kita walau
tunjuki Dia pada kita. maka harapan itu
sebenarnya kepada kita. kerna masakan
yang mengakui Maha Pengasih
bisa tidak tapi melakukan apa
segala kehendaknya. maka pada bukti2
kita meletakkan alasan untuk berkasih
pada erti kata sebenar. dan pada bukti2
maka akan jelas yang benar dari yang salah.
kerna telah anggapan dan kemahuan
menyesatkan meraka yang telah terpengaruh
dengannya. dan telah angkat mereka lebih
darjat dari kita. jadi masakan meletak kita
harapan pada suatu yang landasan tidak kemas
dan tidak tahu akhirnya dimana. and rahsia2
itu miliknya selama. kerna insan menilik
pada lemah durjana makhluk terlaknat
itu hanya perkara yang dimaklumi. tapi
sedar tidak kita perumpamaan bersaksi
yang dalam ia tidak hanya setitis masin air
dari luasnya lautan dalam. jadi masakan ditagih,
jadi masakan dibenci. kerna harap rumpun itu
mekar pada nikmat ini. dan kekadang
harus syukur itu datang di depan pabila
menyaksi susah insan pada hirup ia terus udara
dunia. sedang kita bersenang pada kerusi
malas bermegah dengan pemberian ini.
jadi masakan. kerna telah bersaksi bukti2.
dan pabila berharap maka sungguh itu
hanya pada suatu yang memiliki kehendak
tidak hanya milik bagi-Nya segala...
***
25 Julai 2010
Media dan Kebencian
Posted by Ibnu Sobri at 12:55 PG 0 commentssergah pada yang membesar.
dan kerna kenang yang tua
kenal tanpa sempadan.
kalau hanya cuma kerna
madah yang bicara sukar paham ia
yang muda.
maka keberatan untuk diterima
tapi tak bisa pendirian itu berganjak.
kerna kebencian itu bakar diri
dalam sedar sesak nafas udara tipis
dihirup.
masakan.
kasih sayang satu nikmat.
tanpanya hilang kebahagian
dan diri umpama mayat hidup yang bernyawa.
jadi masakan.
cuma kekadang,
bisik serong syaitan yang berwajah insan,
menyebab sukar pandang kita pada
kebenaran.
tapi tak lupa kerna serong bisikan itu juga
sejak berzaman
maka insan lawan sesama.
tiada lagi kedamaian.
salah sesama.
bak katak yang bertalun madah
sampai akhir sengketa,
tak sapa mahu mengalah.
jadi masakan.
tak pernah,
tapi diri cuma ingin mengingatkan.
yang alpa diri
kekadang lupa yang pandangan itu
sendiri sedang membesar
pada dunia yang kenal tiada jiwa.
Bukan kerna Yang Maha Agung,
tapi salah insan dirinya
yang sukar mengubah kepada haluan
ditetapkan.
tampak zalim dunia pada indera
bukan salah ia pa Pencipta
malah insan yang jahat,
kenal sudah tidak diri malah
telah hanyut pada kesesatan
yang gulita.
***
kerna ini atas dunia,
diberitakan kita,
yang pilih antara dua hanya.
baik atau jahat.
maka seharusnya tiap
yang wujud pada pentas
dunia maka hendaknya
terletak ia pada dua
kehendak ini.
tidak salah kira bebas media
pada seharusnya.
kerna tahu kita kebebasan
mutlak hanya pada letak ia
hukum Tuhan yang ternyata
dalam kalam.
dan pabila tipu insan guna ia
jentera media untuk
membawa bencana,
jadi maka seharusnya
kebebasan tidak harus disalah tafsir.
meski insan itulah yang alpa.
memberi alasan pada kebebesan
maka kejahatan dilakukan
tanpa kenal perasaan.
tapi tahu kita,
tanggung kita wujud satu
usaha mendamai dan mengajar.
maka pentas ini takkan berakhir.
***
kerna diberitakan
"jangan lawan"
seawal usia kenang ku yang perkara
ini tak pernah diambil rasa.
kerna pedih terasa hanya jika insan sanggup
tipu sesama. dan zalim pada dirinya sendiri
dalam melakukan kejahatan.
sedar tidak
yang zalim itu kelak balasnya perit.
yang pedih ini hanya terasa
pada sekelompok dan segolongan
berkomplot pada satu madah
yang ternyata salah.
maka alasan bekal mereka
kukuh pada apa yang mereka
perlakukan.
tapi sedar tidak guna hanya alasan
itu tipis diri untuk selindung
dari panasnya bayu sauna neraka.
***
04 Mei 2010
Pilihan Slah?
Posted by Ibnu Sobri at 1:54 PG 0 commentspada diri,
pada hati kecil ini.
yang derita padanya enggan pergi,
mengapa?
akhirnya sengsara yang kulihat
ku sendiri alaminya,
ya Tuhan bantu ku temui jalan
keluar selamanya.
sesat sendirian yang penghujung
ini tak ku pinta,
kerna dahulu lihat ia dari
kejauhan cukup merasai betapa
punah jika hendak sedemikian rupa.
maka tampak sinar kehendak itunya yang pasti.
tapi merangkak diri kekadang
merasa payah walau hanya satu langkah,
mengapa?
----------------------------------------
epilog
"kerna pilihanku sering salah,
dipilih itu yang memusnah".
mengapa demikian,
tidakkah punya kau mata masa
yang berjaya bawa bangun nusa pada zamannya.
mengapa?
serik ini tak patut,
kerna usia pergi
kembalinya hanya satu mimpi.
mengapa?
seusia yang bisa patut kau renung
enggan menyesal pada benih,
cita-cita yang tanam ia pada
pendukung berikutnya.
mengapa?
dan ku menanti jawapannya.
---------------------------------------
finale
nampak kau bangun suatu yang enggan wujud,
kerna itu bukan kehendaknya.
dan marak api yang kau nyala
kelak bakal bakar dirimu sendiri.
bersedialah!
dan aku yang menanti akan terus
buka mata,
agar tidak sengsara bersama.
wajahmu yang bermain
pada permanain jiwa-jiwa
yang padanya menanti penuh harap.
saksikan yang kesumat itu bukan jawab,
andai ia jawapan yang kau pinta.
dan dunia yang telah kau tolak dari
awalnya tak mungkin kau perolehi
andai kau cuba dengan nyawa.
percayalah,
kulihat wajah letih,
raut tidak senang,
pada dilemma yang kau sendiri bina.
teguh ia goyah pada angin
suara yang melintang.
berhentilah! atau kesal kau
sebagaimana yang telah akui
pilihannya salah senantiasa...
jalan itu masih ada.
-------------------------------------------------
inikah permainan dunia...
***
18 November 2009
Andai kau Dengar
Posted by Ibnu Sobri at 2:56 PG 0 commentsbuat kemahuannya.
akan kau dapati
yang tidak aku berhenti padanya noktah.
dan cukup untuk waktu ini.
maka kau yang dengar jangan berpura,
patut malu kerna guna
orang buat kemahuanmu yang ganas.
16 Oktober 2009
30 September 2009
Mendengar Tekaan
Posted by Ibnu Sobri at 3:59 PG 0 comments
ufuk sana menyaksikan
keliru jiwa buat sang bayu,
padanya terusik segala
akal detik masa yang sama.
ya, yang dekat dikatanya hampir,
benar hanya buat mereka
yang mempunyai hati,
dari mereka yang diberikan
kelebihan tapi enggan menghayati.
Malah Tuhan sahaja yang
tahu benarnya pihak dari yang salah.
Tapi "yang benar itu tetaplah benar,
dan yang salah akan punah akhirnya"
Buat si pembawa berita,
terima kasih ucap tak terhingga.
kerna dewasa insan hanya pada
kefahaman,
dan kebenaran yang dijunjung sampai
akhirnya.
Buat si pembawa berita,
maaf itu tidak perlu dilafaz selalu.
cukup untuk kau buat mengerti,
tanam erat dalam hati,
apa itu yang dinamakan 'maaruf',
dan apa pula itu 'munkar'.
mengerti tidak!
agar diri buat pengajaran.
bahtera yang semakin rasanya berat!
# maaruf: yang diketahui manusia dan yang digemari serta disukainya
# munkar: yang dibantahi, dicemuh dan dipandang jijik oleh manusia
14 April 2009
Buang
Posted by Ibnu Sobri at 1:40 PG 1 commentsMaka layakkah daku
berada di persimpangan
yang padanya gelap malam
samar-samar terangnya
suluh dek sang bulan.
Maka pada jejak itu
setiap bicara bakal bersaksi
bahwa kebenaran kelak
menang atasnya yang batil.
Maka layakkah
tikam lidah pada
benda yang asasnya teguh.
Kerna bisa saja
fitnah ini merebah
kesatuan yang dulunya gah
ikatan yang dulunya mesra.
Andai terus beda paham
memusnah yang suci
kerna yakinlah benar tetap
pada bangunnya
dan selamanya.
Maka mengerti paham
hendak teguh pada yang nyata
bukan pada dasar lemah
akal mentafsir
dan bukan kerna
ego bawa diri selamanya.
Kerna takkan masuk diriku
selamanya ingin yang rugi.
Kerna rugi disana tak berkembali lagi.....
p/s: Quran 17:81. Maka ini benar! Dan kelak kita akan menyaksi! Maka tunggu engaku kerna aku akan terus menunggu.....
31 Mac 2009
Kesian
Posted by Ibnu Sobri at 4:02 PG 0 comments
Bila bicara tak lagi kelihatan
dek gelita tak terlalu laluan
maka disitu ditagih
yang silap
dan bergema yang sudah
ayuh kau
yang padanya
aku kasihan!
maka manakah arah
sejak tuju kita pada
tujuan
YA!
benar janji itu
takkan mungkiri Dia
tapi alangkah risaunya
ku
pada kau
yang aku kasihan!
YA!
telah lama
dan telah nampak
dek sirna insan
kerna perbuatan
dan gulita jiwa
yang padanya
tak tersentuh lagi
mata air yang nyaman
buat penawar
perjalanan yang panjang
maka celaka
ya celaka!
dan celaka!!
siapa tunjuk jalan
malah lalu dia padanya
tapi diri enggan mengaku
tapi diri masih belenggu
tapi diri masih menunggu
tapi diri masih di situ
alangkah rugi
masa berlalu tak mungkin lagi berganti
ya tak berganti lagi.
dan layakkah kita
habis usia
pada benda yang padanya
tiada
KESIAN!!!
13 Mac 2009
Celaru
Posted by Ibnu Sobri at 3:46 PG 0 comments
teriakan di sana sini
berkata
berhujah
bertikam lidah
bahwasanya
kami dalam era pembaharuan
dan yang kami cita
hanya harapan baru yang bermakna
dan bersama mengembeleng tenaga
bawa pulang suara
yang gemanya tak kedengaran
sekian lama dalam kurungan
dan bukti saksi telah nyata
bahawa suara bakal (telah)
beralih arah
ke tujuan yang disebut
tidak !
tidak kusetuju dengan sesiapa
kerna khuatir
pancaindera gagal menekap
yang tak terlihat
yang tak terdengar
dan kerna lemah
tafsiran dek kurang pengalaman
berterima kasih
pada ambil kisah
hati yang bersuara
terhadap seorang
yang telah pilih dirinya
sebagai seorang pengembara
dan jalan ini
hendaknya sukar tak dirasa
dan pedih tak melarat
dari jalan yang pusing pusarnya
akan selalu bergelut
tak kira masa
dan kusaksi
kau berkata teguh kau pada jalan ini
tahniah!
kerna ku tahu jalan kita berbeda
dan selamanya
tidak ku termampu
mengikut jalan yang kaupilih
dan yakiniku
tak mampu kau pula
turuti lembah yang telah
kupilih untuk laluinya
saksikan !
yang ku berkata benar
dan terima kasih
buat sekian kali
kerna mengambil kisah
apabila ajal telah tiba
tak siapa dapat mengelak
dan darinya bergerak insan
mengutip buah2 amal yang termampu
buat perjalanan
yang belum tahu
bila tiba sampai masanya
01 Januari 2009
Di Mana Ketulusanmu
Posted by Ibnu Sobri at 9:12 PG 0 comments
ku tidak mempersoal
apatah mempertikai
tindakan kau kali ini
yang begitu menyedihkan
dan ku bimbang
andai kau terus begini
maka hubungan ini
kelak akan dipersoal
sudahkah kau hilang kewarasan
atau tak tertanggung kau
malu akibat darah yang kami perjuangkan
dan tanah air yang kami cinta pertahankan
sudahkah
sudahkah
sudahkah
biar kami menanti di sini
biar tangisan terus basah di pipi
kami bukan si pengemis
yang menagih simpati
cuma raih bantuan
agar dibuka laluan
yang tertutup
sebelum ini sentiasa terbuka
kerna dari ia
datang masuk
sumber makanan kami
sumber ubatan kami
adakah kau ingin biar kami derita sendirian.....
...
Mentaliti
Posted by Ibnu Sobri at 8:36 PG 0 comments
hadir
anak ibarat kain putih
dan ibu bapalah yang mencorakkan
jadi apalah salah si anak kecil
yang suci murni naluri
tidak tercemar
dan sejak bila
insan jadi penghukum
buat sesuatu
dan bukankah tiap perkara
telah ditetapkan kadarnya
oleh Tuhan empunya alam
dan hukum Tuhan
di dalam kalam-Nya
ada menyeru
bahwa anak itu suci
dan ibu bapa
yang menentukan ia nasara
mahupun majusi
link buat tatapan halwa telinga
Raihan - Anak Permata
...
Sila ke link berikut untuk membaca artikel penuh
Mentaliti
...
29 Disember 2008
Pabila Diri Lupa
Posted by Ibnu Sobri at 6:11 PTG 4 comments
Hati terdetik untuk bersuara selepas membaca artikel di bawah.aku percaya yang kita tak banyak berbeda dalam pengertian
bahwa penyakit hati itu telah meresap
dan ubatnya tiada
melainkan agama yang dibiar subur di dalam jiwa
maka paham agama telah jauh lari
akibat nafsu duniawi yang menerpa
kerna itu amalan dilaku hanya tagih sementara nikmat dunia
maka mata buta tak terlihat betapa indah hidup dunia tak bersempadan
dan bahagia nikmat yang tiada tanding taranya
pabila mahmudah hilang
maka yang kau lihat hanya amarah yang gila
dan tujuan hanya kembali pada dirinya
terlupa yang kita khalifah berbakti buat ummahnya
asbab itu harus kita kembali
meneliti diri dan membangun mentaliti
bahwa dunia akan sirna
dan kehidupan yang kekal hanyalah disana
maka rebut peluang
membetul niat
mengguna segala saluran buat menambah amalan
agar tak menyesal di hari kemudian
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Menyoroti Sastera, Politik dan kemungkinan
