pada sesat mencari jalan pulang, aku berjanji yang kata2 ini benar jauh dari tujuan asal. merentas pergi melulu, maka dakapan kemegahan itu bisa kembali kurasa amat payah kusanggal. maka hati melurut tunduk mengharap, pada payah merantau aku sendirian. maka cerita kembali bergema. dan memori kembali meninjau kisah2 yang telah kulupa. maka dimana letak hati ini tak dapat aku bicara. kerna pada bibit benci, telah pudar kewarasan. dan kini aku bermain dengan padam rasa yang tak kenal erti sunyi. maka dapatkah daku bencilah benci...
Read more
Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
Memaparkan catatan dengan label Depan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Depan. Papar semua catatan
30 Julai 2012
26 Disember 2011
buntu idea.
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 commentspada redup awanan, maka tadah air itu bagai butiran mutiara yang jatuh menusuk perut bumi. maka hidup subur kembali segala yang bertasbih tiada henti. dan indahnya pada kehijauan yang bermain di depan mata, cukup buat diri segar dalam lalai dari kacau fikiran. maka berterusan aku dikucup bayu yang entah kemana dingin itu tiba buat bangkit kembali jiwa. oh! mesra sebegini seakan membuat diri lupa pada takdiran yang aturan ini begitu sempurna. buat tayangan lemah insan dalam cakerawala... buat bingit semua itu dalam tadahan doa! semoga berita gembira itu khabaran-nya pasti. yang pergi menimpa, maka kita semua bakal semua berjumpa. bertemu pada paksi yang janji, itu benar pada lukisan alam yang telah menyerah segalanya... maka makalah ini luasnya buat diri rasa megah dalam selimut hamba. yang aku ini telah bersaksi, maka aturan itu cuba ku fahami dari sudut jiwa dan hati yang berasa gundah. bahwa sekian akan ketemu harap dan takut yang menyerpa...
Read more
29 Oktober 2010
Cahaya petunjuk.
Posted by Ibnu Sobri at 8:07 PG 0 commentsdalam kaku perhatiku gerakan alam. maka
sesekali tergaman aku akan kasih yang ia
timbulkan dalam jiwa. dan patut balas tidak
menyambut, maka pujian terus basah ia pada
ingatan. yakni tulus itu harus pergi pada suatu
makalah kebenaran. yang tak kenal penghujung.
maka pada debaran ini ku hanya serah segalanya
pada pemilik empunya alam. maka pada kekok
bicara aku yang tidak ketahuan akan maknanya.
terus kucuba walau damai perasaan itu tidak cita.
dan pada maksud kusampai erti kata yang mungkin
tak bisa mengerti engkau akan hasil tujuannya.
tapi tadah tangan ini terus kuharung. yang
pemberi manfaat itu bukan aku jiwanya. maka
siapa beroleh ia cahaya. maka akan kedapatan yang
sinarnya takkan padam. dan ilmu yang berbekal
dalam jiwa harap terus bentuk perwatakan yang
sudah memang anggun pada zahirnya. maka harap
itu terus kuharung dalam takut yang menerpa...
***
Read more
sesekali tergaman aku akan kasih yang ia
timbulkan dalam jiwa. dan patut balas tidak
menyambut, maka pujian terus basah ia pada
ingatan. yakni tulus itu harus pergi pada suatu
makalah kebenaran. yang tak kenal penghujung.
maka pada debaran ini ku hanya serah segalanya
pada pemilik empunya alam. maka pada kekok
bicara aku yang tidak ketahuan akan maknanya.
terus kucuba walau damai perasaan itu tidak cita.
dan pada maksud kusampai erti kata yang mungkin
tak bisa mengerti engkau akan hasil tujuannya.
tapi tadah tangan ini terus kuharung. yang
pemberi manfaat itu bukan aku jiwanya. maka
siapa beroleh ia cahaya. maka akan kedapatan yang
sinarnya takkan padam. dan ilmu yang berbekal
dalam jiwa harap terus bentuk perwatakan yang
sudah memang anggun pada zahirnya. maka harap
itu terus kuharung dalam takut yang menerpa...
***
25 Oktober 2010
Merentas masa.
Posted by Ibnu Sobri at 4:02 PTG 0 comments
oh, pada sepi sendirian menanti tak sudah.
ku dapati yang usia bertambah tanpa isi
ia akan ketinggian himmah. dan susun tadbir
aku pada rasa yang sayup ia dalam jiwa. oh,
andai hadir rembulan itu bisa bawa penawar
kembali basah akan kering derita kasih yang
aku alami. maka menanti tidak akan terus
aku tegak berdiri hingga dapat kusaksikan ayu
serinya. oh, pada masa berlalu itu harus
kusempurna apa terdaya. kerna milikku itu
tiada apa melainkan yang telah kering
pena itu catatkan. maka saksi akan aku yang
tawakkul itu terkedepan ia dengan usaha.
maka dalami aku akan rentas hati itu, masih
tidak dapatku mesra. oh andai kata suka itulah
letaknya makna cinta? maka dimana saja akan
hadir insan, si pencuri rasa...
***
ku dapati yang usia bertambah tanpa isi
ia akan ketinggian himmah. dan susun tadbir
aku pada rasa yang sayup ia dalam jiwa. oh,
andai hadir rembulan itu bisa bawa penawar
kembali basah akan kering derita kasih yang
aku alami. maka menanti tidak akan terus
aku tegak berdiri hingga dapat kusaksikan ayu
serinya. oh, pada masa berlalu itu harus
kusempurna apa terdaya. kerna milikku itu
tiada apa melainkan yang telah kering
pena itu catatkan. maka saksi akan aku yang
tawakkul itu terkedepan ia dengan usaha.
maka dalami aku akan rentas hati itu, masih
tidak dapatku mesra. oh andai kata suka itulah
letaknya makna cinta? maka dimana saja akan
hadir insan, si pencuri rasa...
***
11 Oktober 2010
Mahligai malam.
Posted by Ibnu Sobri at 8:17 PG 0 commentsmaka berlabuh senja berlalu memberi cerita
gembira buat si pencinta rembulan. dan kerlipan
bintang2 begitu asyik hingga lalai seketika diri
dengan khayalan. mesra bak erat itu sudah lama
gengam bersama akan ikatan itu dengan kuat. tapi
masakan yang hadir itu bisa kekal ia suci dalam
hati. jika air siramannya berhenti dari hujanan
kasih sayang. dan gersang ia akibat kering angin
kekalutan. bisa pergi berbuah kasar dengan tajam
duri2 di dahan. maka pokok itu bisa rimbun. tapi
rasa itu belum wujud. kerna apa yang dilihat itu
tidak dapat timbul dari air mata perasaan. dan
hasad yang menguasai terus angkuh ia dalam
ramai. kerna tidak sedar yang akhir diri keseorangan
tak berteman. tapi kerna cari mengerti yang ada
itu tidak wujud. hatta kerna bersama, maka takut
itu hancur. tapi demikian belum kukuh hujah
engkau berjiwa kejam. kerna kelak apa yang
dilaksana, soalan darinya akan berpanjangan.
selesai pada hujung sempadan yang tidak ketahuan
akan tamatnya. maka apakah derita itu mesti kita
pendam pada cubaan menguasai insan. kerna
seharus pelukan diri itu kuat memaling segala
yang merosak diri dari dalam. masakan, kerna
cahaya itu diraih belum sinarnya gemerlap pada
merah nyalaan hati kedukaan. oh enak terasa
andai diri kenal yang rasa itu wujud pada hikmah
yang tak mengerti aku akan maknanya. dan
kehendak melewati suatu suasana yang sendiri
cuba mengerti izzah yang ada dalam perjuangan.
masakan diraih, kerna cetek pengetahuan belum
dapat membentuk satu mahligai yang pesona
ia terbit dan nampak hingga luaran. kerna yang
dalam harus genggam erat, dan luhur ia pada
niat yang suci tertumpu pada suatu yang telah
diberita sejak dari awalnya. aku menunggu hadir
bicara yang bisa sejuk baraan hati keinsafaan. pada
sifat yang bisa dingin segala persoalan. dan agar
erat lagi petunjuk yang memayungi aku dengan
realiti kehidupan... oh agar bisa timbul terbit
suatu yang usaha sedaya aku bina?
***
Read more
gembira buat si pencinta rembulan. dan kerlipan
bintang2 begitu asyik hingga lalai seketika diri
dengan khayalan. mesra bak erat itu sudah lama
gengam bersama akan ikatan itu dengan kuat. tapi
masakan yang hadir itu bisa kekal ia suci dalam
hati. jika air siramannya berhenti dari hujanan
kasih sayang. dan gersang ia akibat kering angin
kekalutan. bisa pergi berbuah kasar dengan tajam
duri2 di dahan. maka pokok itu bisa rimbun. tapi
rasa itu belum wujud. kerna apa yang dilihat itu
tidak dapat timbul dari air mata perasaan. dan
hasad yang menguasai terus angkuh ia dalam
ramai. kerna tidak sedar yang akhir diri keseorangan
tak berteman. tapi kerna cari mengerti yang ada
itu tidak wujud. hatta kerna bersama, maka takut
itu hancur. tapi demikian belum kukuh hujah
engkau berjiwa kejam. kerna kelak apa yang
dilaksana, soalan darinya akan berpanjangan.
selesai pada hujung sempadan yang tidak ketahuan
akan tamatnya. maka apakah derita itu mesti kita
pendam pada cubaan menguasai insan. kerna
seharus pelukan diri itu kuat memaling segala
yang merosak diri dari dalam. masakan, kerna
cahaya itu diraih belum sinarnya gemerlap pada
merah nyalaan hati kedukaan. oh enak terasa
andai diri kenal yang rasa itu wujud pada hikmah
yang tak mengerti aku akan maknanya. dan
kehendak melewati suatu suasana yang sendiri
cuba mengerti izzah yang ada dalam perjuangan.
masakan diraih, kerna cetek pengetahuan belum
dapat membentuk satu mahligai yang pesona
ia terbit dan nampak hingga luaran. kerna yang
dalam harus genggam erat, dan luhur ia pada
niat yang suci tertumpu pada suatu yang telah
diberita sejak dari awalnya. aku menunggu hadir
bicara yang bisa sejuk baraan hati keinsafaan. pada
sifat yang bisa dingin segala persoalan. dan agar
erat lagi petunjuk yang memayungi aku dengan
realiti kehidupan... oh agar bisa timbul terbit
suatu yang usaha sedaya aku bina?
***
04 Oktober 2010
Sesekali salah mentafsir.
Posted by Ibnu Sobri at 4:49 PG 0 commentspada buah madah makna maka kubawa menyaksi tafsiran
yang salah. ooo masakan. kerna tak mengerti diri akan kata
yang baru tuntun ia agar bertatih semula. maka untuk bisa
jalan pada sentak kaki sendiri sudah pasti itu bukan kerja
mudah. tapi ku yakini yang bahasa hati itu bisa saja, hubung
ia pada suatu ikatan yang teguh. tidak lagi bisa runtuh. tapi
dalam sendu kedinginan hati yang dingin. ingin kukhabar
pada kalbu yang menyepi bahwa rasa itu ada buat harap dikau
bisa terima sinar kilauan pasti. yang dengannya, maka sudah
mesra hati dengan rasa yang enak tidak lagi dapat terbayang.
maka, pada laluan masa. tagih ku harung doa tak pernah sudah.
kerna walau bisa ku sampai kalam buat terjemah kau pada
hati yang meyakini. tidak bisa mengerti dikau andai itu
bukan kehendak yang punya cahaya yang dariNya datang
segala petunjuk... tapi tawakkul tidak tapi hanya padaNya.
kerna andai terbit buah kebaikan walau sebesar zarah, sudah
Dia tunjuki engkau jalan yang mudah. kerna ku yakini pasti,
milik dikau semua itu. tapi hendaknya yang nasib itu bukan
milik aku akan pengetahuannya. maka terus tadah ku yang
faham bisa datang. dan merumpun ku pada dikau yang kurindu.
***
Read more
yang salah. ooo masakan. kerna tak mengerti diri akan kata
yang baru tuntun ia agar bertatih semula. maka untuk bisa
jalan pada sentak kaki sendiri sudah pasti itu bukan kerja
mudah. tapi ku yakini yang bahasa hati itu bisa saja, hubung
ia pada suatu ikatan yang teguh. tidak lagi bisa runtuh. tapi
dalam sendu kedinginan hati yang dingin. ingin kukhabar
pada kalbu yang menyepi bahwa rasa itu ada buat harap dikau
bisa terima sinar kilauan pasti. yang dengannya, maka sudah
mesra hati dengan rasa yang enak tidak lagi dapat terbayang.
maka, pada laluan masa. tagih ku harung doa tak pernah sudah.
kerna walau bisa ku sampai kalam buat terjemah kau pada
hati yang meyakini. tidak bisa mengerti dikau andai itu
bukan kehendak yang punya cahaya yang dariNya datang
segala petunjuk... tapi tawakkul tidak tapi hanya padaNya.
kerna andai terbit buah kebaikan walau sebesar zarah, sudah
Dia tunjuki engkau jalan yang mudah. kerna ku yakini pasti,
milik dikau semua itu. tapi hendaknya yang nasib itu bukan
milik aku akan pengetahuannya. maka terus tadah ku yang
faham bisa datang. dan merumpun ku pada dikau yang kurindu.
***
06 Ogos 2010
Saat yang terindah
Posted by Ibnu Sobri at 5:41 PG 0 commentsandai dapat ku sekali ini temui akan saat indah
yang amat ku dambakan dalam hati. maka akan
berkejaran ku akannya. tanpa henti dan kenal lelah
penat itu akan sesekali bisa diri terlunjur tapi enggan
mengalah. kerana ini detik yang dinanti maka bara
azam itu harus ku semarak sampai capai ia hangat
pada yang berpenghujung walau itu hanya baranya.
maka pada tadah tangan ku hulur dan bicara itu
sayup dalam hati yang kini sedar, bahwa berjawab
sentiasa walau kelihatan tidak pada zahir mata, tapi
Yang Maha Kuasa bisa buat apa saja kehendak-Nya.
maka pada jawapan berbalas maka hendak ia milik
-Nya kemahuan itu. tapi segala yang pasti insan hamba
mesti peluang direbut sampai masanya untuk dua
itu berkemundang. kerna itulah tangunggannya. saat
itu berlalu sudah maka tampak ia sangat laju berlalu
maka hadir kali ini diharap, manfaat selanjut maka
itulah peluang yang diberi. kerana sesungguhnya lebih
luas rahmat-Nya tambah ini bulan mulia. maka diri
meminta agar sedar itu bisa kuat diri dalam kehendak
untuk mengerja amal, dan pinda dituju semestinya
hanya untuk-Nya. kerana rugi tidak segala kiranya
lurus pada arah itu serong ia bukan pada tempatnya.
maka pabila si laknat digari, maka peperangan bermula
buat kita menawan dan menghambakan hawa yang
barang kita telah tewas akannya pada tempoh yang sudah.
maka saat yang sayup umpama embun di keheningan,
sudah bisa harus kita kuasai apa yang semestinya.
kerna raja tidak enggan mengalah selain bila dia dalam
kelemasan. kerna lemah diri maka harap itu ku letak
tinggi agar bisa capai takluk diri yang selama ini
kehayungan dalam celaru diri pada gelap lautan yang
dalam. kerna azam itu semarak ini maka ku laungkan
buat gema dalam fikiran yang evolusi itu letaknya
pada kemampuan pada kita mengoreksi lalu bawa
ke haluan yang megah ia bukan pada si pelupa, dan bukan
buat si angkuh. kerna siapa yang diberi hormat melangit
pada barakah yang semesta itu luasnya, maka tunduk
harus dia lagi bersujud pada Yang Satu menadah redha-Nya.
andai harus dapat ku jadikan ini saat yang terindah... Ameen.
***
Read more
yang amat ku dambakan dalam hati. maka akan
berkejaran ku akannya. tanpa henti dan kenal lelah
penat itu akan sesekali bisa diri terlunjur tapi enggan
mengalah. kerana ini detik yang dinanti maka bara
azam itu harus ku semarak sampai capai ia hangat
pada yang berpenghujung walau itu hanya baranya.
maka pada tadah tangan ku hulur dan bicara itu
sayup dalam hati yang kini sedar, bahwa berjawab
sentiasa walau kelihatan tidak pada zahir mata, tapi
Yang Maha Kuasa bisa buat apa saja kehendak-Nya.
maka pada jawapan berbalas maka hendak ia milik
-Nya kemahuan itu. tapi segala yang pasti insan hamba
mesti peluang direbut sampai masanya untuk dua
itu berkemundang. kerna itulah tangunggannya. saat
itu berlalu sudah maka tampak ia sangat laju berlalu
maka hadir kali ini diharap, manfaat selanjut maka
itulah peluang yang diberi. kerana sesungguhnya lebih
luas rahmat-Nya tambah ini bulan mulia. maka diri
meminta agar sedar itu bisa kuat diri dalam kehendak
untuk mengerja amal, dan pinda dituju semestinya
hanya untuk-Nya. kerana rugi tidak segala kiranya
lurus pada arah itu serong ia bukan pada tempatnya.
maka pabila si laknat digari, maka peperangan bermula
buat kita menawan dan menghambakan hawa yang
barang kita telah tewas akannya pada tempoh yang sudah.
maka saat yang sayup umpama embun di keheningan,
sudah bisa harus kita kuasai apa yang semestinya.
kerna raja tidak enggan mengalah selain bila dia dalam
kelemasan. kerna lemah diri maka harap itu ku letak
tinggi agar bisa capai takluk diri yang selama ini
kehayungan dalam celaru diri pada gelap lautan yang
dalam. kerna azam itu semarak ini maka ku laungkan
buat gema dalam fikiran yang evolusi itu letaknya
pada kemampuan pada kita mengoreksi lalu bawa
ke haluan yang megah ia bukan pada si pelupa, dan bukan
buat si angkuh. kerna siapa yang diberi hormat melangit
pada barakah yang semesta itu luasnya, maka tunduk
harus dia lagi bersujud pada Yang Satu menadah redha-Nya.
andai harus dapat ku jadikan ini saat yang terindah... Ameen.
***
17 Julai 2010
Mengerti ku tidak
Posted by Ibnu Sobri at 4:18 PG 0 commentskerna yang depan bukan milik sendiri,
dan tiada ku pengetahuan pasti.
langkah ini terus,
walau tidak ku mengerti,
habis upaya mengejar yang mana.
maka silap yang lampau,
buat kejap mata terbuka,
maka palsu itu jawapan
tidak sebenar kerna
tahu Dia segalanya.
maka hati siapa yang berpenyakit,
akan tambah Dia penyakit.
kerna mukmin itu,
harap dia,
lurus dia,
tuju dia,
menurut jalan yang satu.
maka tipu dia
tidak malah hanya menipu
dirinya sendiri.
maka amal yang diterima,
hanya itu bekalan yang pasti.
terlunjur ku pada jalan mati,
maka harap bulan kemulian
yang bakal menyinari,
akan terus tadah hati
ini dengan makna iman.
dan ku berusaha,
mengejar apa yang hilang,
satu perasaan yang dulu
terlepas pandang.
dan kini terus ku merayu
agar dia datang kembali dalam diri.
itu suatu keistimewaan,
maka itu buah ketenangan.
tak bisa dibeli,
dan tak usah dicari.
ia dalam dirimu sendiri.
hanya perlu tinggal dibaja,
maka akan subur ia tumbuh
melangit.
ku merenung tinggi...
***
Read more
dan tiada ku pengetahuan pasti.
langkah ini terus,
walau tidak ku mengerti,
habis upaya mengejar yang mana.
maka silap yang lampau,
buat kejap mata terbuka,
maka palsu itu jawapan
tidak sebenar kerna
tahu Dia segalanya.
maka hati siapa yang berpenyakit,
akan tambah Dia penyakit.
kerna mukmin itu,
harap dia,
lurus dia,
tuju dia,
menurut jalan yang satu.
maka tipu dia
tidak malah hanya menipu
dirinya sendiri.
maka amal yang diterima,
hanya itu bekalan yang pasti.
terlunjur ku pada jalan mati,
maka harap bulan kemulian
yang bakal menyinari,
akan terus tadah hati
ini dengan makna iman.
dan ku berusaha,
mengejar apa yang hilang,
satu perasaan yang dulu
terlepas pandang.
dan kini terus ku merayu
agar dia datang kembali dalam diri.
itu suatu keistimewaan,
maka itu buah ketenangan.
tak bisa dibeli,
dan tak usah dicari.
ia dalam dirimu sendiri.
hanya perlu tinggal dibaja,
maka akan subur ia tumbuh
melangit.
ku merenung tinggi...
***
28 Mac 2010
Harap
Posted by Ibnu Sobri at 11:50 PTG 0 commentsmaka harap yang itu tuju ia hanya pada yang Satu.
pemilik buana malah lebih dari apa yang diri ketahui.
maka letak diri hanya pada teguh yang telah bersemadi,
padu ia pada hati yang mudah saja ia luntur andai tak dibaja.
ya, maka harap itu ingin saja diri berkekalan dalam
rasa yang manisnya tak dapat diluah cita.
kerna selimut manis itu bisa saja bersimpul dengannya
dalan gulungan kepayahan yang mengundang kesabaran
berpanjangan.
jadi mana dipilih jika bukan yang itu.
dan jelajah yang ditempuh harap sudah dapat diri mengenal,
makna segala tapi tidak kerna cetek ilmu manusia.
jadi harap saja cahaya itu bersinar,
germelap ia pada hati yang sukar dibentuk.
dan jelajah yang mendatang harap benar dapat bertambah,
segala yang di dalam jiwa, segala yang di dalam akal,
dan jua hati yang ku harap tak kaku andai keadaan ini berterusan.
17 Februari 2010
Tiada
Posted by Ibnu Sobri at 10:21 PG 0 commentsmaka gapai yang yang jauh itu,
hendaknya tidak bisa mesti capai ia
pada yang semestinya berlaku tidak ku tahu.
kerna yang pasti depan itu bukan milik empunya,
dan hendak diri tiada pengetahuan pasti,
maka pada bibit jalanan maka
derap itu terus menuju ke depan.
ooo, milikku pada-Nya yang ada pada diri.
maka tidak ku selisih malah
terus cuba ikut pada panduan
yang faham ia pada indera dikala gelap
malam yang bisa menyelubungi jiwa.
pada setiap arah yang datang dan pergi.
ya, bukan pada tempatnya...
maka senyum itu lihat bisa runtuh
kesunyian pada bibit yang terlupa,
dan ingatan cuba tidak malah
berbaki dan kenangan itu mengajarkan.
segalanya...
tapi yidak juga sempurna seperti yang disangka,
kerna masakan yang lemah itu,
bangkit jiwa menjadi ia segala apa yang dirasa.
ya, tidak.
dan tidak sambut pada suatu yang mengerti ia
lipatan yang berlaku pada selit peristiwa,
dan tiada rai diri pada suatu
yang tidak diberitakan pada naskah
yang cuba sedaya diri mengikutinya.
dan depan yang diraih semestinya,
tidak malah enggan diri memikirkannya.
kerna pabila detik itu tiba
tidak dapat tidak diri melewatinya.
tapi lemah daya terus harap
pada tika yang buat diri menyapa, bersua, berjumpa.
ya, sudah sekian lama.
pastinya jauh...
tapi harapan buat ia dekat bagai depan mata.
ku bersaksi sepenuhnya.
walau harus berserah seluruh
kerna tahu diri tiada kuasa
yang bisa mungkin buat semua itu
berlaku pada kadar kehendak yang menimbang tara.
ku bakal datang...
Read more
hendaknya tidak bisa mesti capai ia
pada yang semestinya berlaku tidak ku tahu.
kerna yang pasti depan itu bukan milik empunya,
dan hendak diri tiada pengetahuan pasti,
maka pada bibit jalanan maka
derap itu terus menuju ke depan.
ooo, milikku pada-Nya yang ada pada diri.
maka tidak ku selisih malah
terus cuba ikut pada panduan
yang faham ia pada indera dikala gelap
malam yang bisa menyelubungi jiwa.
pada setiap arah yang datang dan pergi.
ya, bukan pada tempatnya...
maka senyum itu lihat bisa runtuh
kesunyian pada bibit yang terlupa,
dan ingatan cuba tidak malah
berbaki dan kenangan itu mengajarkan.
segalanya...
tapi yidak juga sempurna seperti yang disangka,
kerna masakan yang lemah itu,
bangkit jiwa menjadi ia segala apa yang dirasa.
ya, tidak.
dan tidak sambut pada suatu yang mengerti ia
lipatan yang berlaku pada selit peristiwa,
dan tiada rai diri pada suatu
yang tidak diberitakan pada naskah
yang cuba sedaya diri mengikutinya.
dan depan yang diraih semestinya,
tidak malah enggan diri memikirkannya.
kerna pabila detik itu tiba
tidak dapat tidak diri melewatinya.
tapi lemah daya terus harap
pada tika yang buat diri menyapa, bersua, berjumpa.
ya, sudah sekian lama.
pastinya jauh...
tapi harapan buat ia dekat bagai depan mata.
ku bersaksi sepenuhnya.
walau harus berserah seluruh
kerna tahu diri tiada kuasa
yang bisa mungkin buat semua itu
berlaku pada kadar kehendak yang menimbang tara.
ku bakal datang...
29 November 2009
Kehidupanku (My Life)
Posted by Ibnu Sobri at 7:12 PG 0 commentsdalam usang yang menekun dipinggiran,
Read more
maka sinarnya menyapa buat sang duka.
kerna kau pemilik cahaya,
maka gelar yang itu sudah pasti buat diri tertanya.
"manakah dikau?"
hilang dalam dakapan kisah yang lalu.
hendak punya saja sinar yang padanya milikmu.
bukan kerna nama,
tapi kerna pada hati yang merasa,
tertarik terpikat pada indah suatu yang luhur,
dan padanya kedapatan buahan yang lebat merimbun.
dan juga pada sama tidak serasi malah hampir serupa.
masakan.
"Kerna baik seorang sebelum jahiliyah,
baik lagi ia pabila menyahut ia sinaran iman",
maka bahagia bulan yang dimuliakan,
tidak banyak malah harapan terus dijulang,
agar ikat yang benar terdetik pada hati yang sudah kenal
makna kehidupan;
akur pada yang Kuasa,
bantu sesama manusia.
"agar terdetik.
agar menerima."
panjatku agar diperkenan.
II
walau hampir saja kehabisan bekalan,
kerna ini perjalanan yang panjang.
maka kuturutkan langkah,
menyaksi buat hati merintih,
lihat suatu padanya memapar sinar harapan.
tapi tidak,
maaf dipermula pada setiap bicara
yang mendatang,
sebab memahami,
kerna mengerti,
walau cuba menyendiri.
itu air muka yang bisa faham yang pasti saja
buat hati berduaka sama,
tapi kerna pilih bukan kerna simpati,
dan tahu itu kelemahan dalam diri,
maka sayu tunduk kau merasa rendah
tak bisa memaparkan segalanya.
jadi jangan terus merasa hina.
kau punya cukup sebagaimana semua.
***
21 Oktober 2009
Senda
Posted by Ibnu Sobri at 3:51 PG 1 comments
Bilang ku pada sendiri,
jika ketemu ku orang gila,
maka tiada yang lain,
dan orang itu adalah aku.
gila pada semuanya,
yang garapannya bukan
buat sendiri.
dan nilai berbaki hendak
dihargai.
kerna detik tidak berulang,
dan takkan pergi.
masakan.
ya, masakan.
Gila ku pada bicara
suka,
dengar hati itu berbunyi,
dan jawab yang berbalas,
semestinya,
buah yang ranum,
manis rasanya.
Gila ku pada kerja ini,
semakin hari
lazatnya tak terasa,
tapi hendak jua,
andai ia kekal
hingga diri pergi.
dan tetap langkah kaki
pada lurus jalan ini.
masakan.
tidak diketahui.
tapi harapan itu lanjut
sehingga surut.
Tapi pada kegilaan ini,
harap diri
tidak lepas batas,
sempadan yang pegang erat
sejak terkebelakang.
masakan.
Buat mengikut.
selamanya terikut,
dan aku yang kegilaan,
akan terus bermain
permainan suka.
terhibur sendiri.
seronok sendiri.
Harap sampai...
Harap senyum dibibir memerhati...
selamat,
semoga sebelum lilin,
bakar nyalanya terpadam,
kau tersedar,
moga kau diberi kekuatan.
ya, engkau adalah
kau yang aku suka.
dan penafian itu bisa
merumitkan,
menyusahkan segalanya.
...
jika ketemu ku orang gila,
maka tiada yang lain,
dan orang itu adalah aku.
gila pada semuanya,
yang garapannya bukan
buat sendiri.
dan nilai berbaki hendak
dihargai.
kerna detik tidak berulang,
dan takkan pergi.
masakan.
ya, masakan.
Gila ku pada bicara
suka,
dengar hati itu berbunyi,
dan jawab yang berbalas,
semestinya,
buah yang ranum,
manis rasanya.
Gila ku pada kerja ini,
semakin hari
lazatnya tak terasa,
tapi hendak jua,
andai ia kekal
hingga diri pergi.
dan tetap langkah kaki
pada lurus jalan ini.
masakan.
tidak diketahui.
tapi harapan itu lanjut
sehingga surut.
Tapi pada kegilaan ini,
harap diri
tidak lepas batas,
sempadan yang pegang erat
sejak terkebelakang.
masakan.
Buat mengikut.
selamanya terikut,
dan aku yang kegilaan,
akan terus bermain
permainan suka.
terhibur sendiri.
seronok sendiri.
Harap sampai...
Harap senyum dibibir memerhati...
selamat,
semoga sebelum lilin,
bakar nyalanya terpadam,
kau tersedar,
moga kau diberi kekuatan.
ya, engkau adalah
kau yang aku suka.
dan penafian itu bisa
merumitkan,
menyusahkan segalanya.
...
Langgan:
Catatan (Atom)
