Tentang diri

Foto Saya
Ibnu Sobri
Kedah, Malaysia
Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Lihat profil lengkap saya

Blog

Memaparkan catatan dengan label Sinis. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sinis. Papar semua catatan

26 Oktober 2011

"Jangan melawan"

0 comments










terdetik daku akan imbauan perjalanan yang lalu.
bahwa setiap gerak maka ku diperingat agar
'jangan melawan'... pada setiap langkah, maka
kembara diselaputi akan makna yang tersirat.
maka berlalu sudah masa. sungguh gagal daku dari
pemahaman sebenar. bahwa 'jangan melawan' itu
harus tuju buat siapa dan mengapa???
ooo... perjalanan yang sepatut mengajar terus erti
hidup. kini keliru bergelutan dalam himpunan
makna... dimanakah???

maka andai silap diriku nampak suatu peristiwa
dan rentetanya. bukan itu salahku, andai pola
perjalanan waktu berkata yang itu bakal berlaku.
maka dimana terletak kejahilan andai bersua
dikau tidak pada keadilan yang di-suara. maka
apakah itu keseimbangan cuba dibina andai
runtuhan yang dirumpun bukan dari asas yang
kukuh... maka 'jangan melawan' tiada ertinya
pada daku yang lemah! justeru berbangga dikau
pada kalimah itu yang masih bergema dihujung
benak fikirku.

+++
Read more

15 Oktober 2011

Bebas diriku dari kenangan lalu...

0 comments
berlalu masa tidak bawa kembali seri dan damai yang pergi.
kerna kenangan sukar dilupakan malah diterjemah. masakan,
kerna hati itu masih lagi sayu pada setiap suara dan mata yang
menyapa. dan kata-kata yang ku genggam pasti itu selalunya
buat diri lemah pada daya yang tak bernyawa....ooo, mengapa
dilepaskan sendiri. kerna telah tiba masa-nya. waktu buat berlabuh
pergi memori yang hampir pada hati. bahwa salam tak menyambut,
maka tadah aku itu harus pada tempatnya.....namun, bisa anggap
dikau temanku, takkan aku lupa. dan bahwa pernah sekali, harapan
itu menggunung tinggi. dan rasa masih ada, dan mekar ia pada
makna yang sebenar.....sebelum meresap ia ke bumi bersama
rintihan awanan, yang memahami... seakan mengerti apa yang
pernah diri lalui!
Read more

30 Julai 2010

Bukti

0 comments
maka jejak kaki tak pernah berhenti,
kerna tak ketahui aku mana jalan tamatnya,
dan dimana ia bakal berlaku.
kerna selagi hirup ku udara kedamaian
dam hati yang diluarnya bagai taufan
yang meribut, maka akan ku katakan
bahwa saksiku bukti2 yang nyata,
walau lemah diri sering saja bawa
belenggu diri ke lembah hina.
maka bukti2 yang bermain pada indera
menjadi madah mengenal bahwa dia
sering memberi rasa dalam sedar
hati yang kadang2 alpa mengingati
dan membesar padanya empunya kuasa.
maka sepanjang kembara ini ku turuti
laluan yang padanya kekadang sempit terasa,
maka bayangan bukti2 itu sering saja
membuat diri serba salah. kerna pada
akal diri bertepi, tapi pada pandangan
ia membuka peluang untuk diri meresap
cahaya, selamanya mengadah.
maka bukti2 telah menjadi saksi
bawa akan hadir tiba jua masa yang
sering kita tinggal dibelakang. dan bahwa
Dia selamanya mengaharapkan yang
hambanya akan mengikuti apa yang
telah dimaklumi ia akan sedikit
pengetahuan yang ghaib. tapi terlepas
Dia dari kehendak pada kita walau
tunjuki Dia pada kita. maka harapan itu
sebenarnya kepada kita. kerna masakan
yang mengakui Maha Pengasih
bisa tidak tapi melakukan apa
segala kehendaknya. maka pada bukti2
kita meletakkan alasan untuk berkasih
pada erti kata sebenar. dan pada bukti2
maka akan jelas yang benar dari yang salah.
kerna telah anggapan dan kemahuan
menyesatkan meraka yang telah terpengaruh
dengannya. dan telah angkat mereka lebih
darjat dari kita. jadi masakan meletak kita
harapan pada suatu yang landasan tidak kemas
dan tidak tahu akhirnya dimana. and rahsia2
itu miliknya selama. kerna insan menilik
pada lemah durjana makhluk terlaknat
itu hanya perkara yang dimaklumi. tapi
sedar tidak kita perumpamaan bersaksi
yang dalam ia tidak hanya setitis masin air
dari luasnya lautan dalam. jadi masakan ditagih,
jadi masakan dibenci. kerna harap rumpun itu
mekar pada nikmat ini. dan kekadang
harus syukur itu datang di depan pabila
menyaksi susah insan pada hirup ia terus udara
dunia. sedang kita bersenang pada kerusi
malas bermegah dengan pemberian ini.
jadi masakan. kerna telah bersaksi bukti2.
dan pabila berharap maka sungguh itu
hanya pada suatu yang memiliki kehendak
tidak hanya milik bagi-Nya segala...



***
Read more

17 Julai 2010

Tiada Suara

0 comments
setiap terjadi ada maknanya.
siapa yang mundur,
maka dia dalam kerugian.

panggilan itu datang silih berganti,
menyeru kita jalan pulang.
tapi entah kekadang,
sedar kita tidak,
tapi terpesona dengan khayalan,
ku turut sama menghadapinya.

maka layak Dia Maha Pengasih,
membuka pintu bagi hambanya,
sebelum detik tahu hanya Dia
tertutup.

maka pabila manusia,
salah menyalahi,
maka sedarlah yang hanya
kebenaran akan
dibawa ke penghujung.

maka kata kau bawa benar,
dan aku salah segalanya.
maka ingin aku biarkan,
maka biar yang layak menentukan.
kerna kebenaran itu datang dari dia.

maka buat kau apa yang
kau usahakan,
dan tetap aku dalam amal
yang ku kerjakan.

maka buah mana yang
bakal ranum,
dan diterima?
serah hanya kita pada-Nya...
ku bersaksi,
dan kau bersaksi.



***
Read more

12 Disember 2009

Bagaimana...

0 comments
dan kerna basah itu mengalir pergi,
dari kejauhan tampak yang memerhati
derita yang buat sekian kalinya,
maka dimanakah dikau?

dikala diam jalan sendirian maka madah
itu beransur pergi bersama riuh suasana
sekitarnya.

maka yang dilupa tak ingat,
dan yang serik sering saja melakukan perkara sama.
bagai berjalan di tengah malan,
sedang hujungnya gaungnya sangat dalam.
masakan.
kerna tak memahami dan mengerti.
kesian!

pabila diam kata itu tak tahu buat siapa.
kerna andai lidah ini kawal tidak
pada akal rasional yang menguasai,
usah tidak pasti terjerumus jua daku ke lembah hina.
minta dijauhkan....
kerna jelik ia aku lihat sendiri,
jadi masakan ku pula yang melakukan.

kerna sempit itu buat kepda yang celaka.
takziah jua andai diri tak berbalik.
selamat.
buat dikau dan buat ku jua.
moga dapat apa yang didamba.
moga buta itu celik,
dan diam itu kembali bersuara.

amat senorok.
tak sabar untuk menanti.
buah itu bisa ranum busuk pada si penanamnya.
sekian dan kesian!


***
Read more

06 Oktober 2009

Bukan Kamu...

0 comments










kepadanya ketahui,
kepadanya diberi,
tumpuan itu,
basahan kasih itu,
apa yang dimimpi,
apa yang dibenci,
apa yang dikongsi.
bukan kamu...

yang menerima,
sepastinya dia ketahui,
itu adalah untuknya.
bukan seperti permainan lama,
kusut layu pada keruan tanda tanya.
dan dinodai dusta penuh
simpang siurnya,
tak bersempadan,
tak tahu mana hujungnya.
sehingga pabila ia tamat.

ya, mungkin ini berita kejam,
tapi mana mungkin,
lawan ia jenayah terancang.
jatuh orang dari belakang.

ya, ku menunggu,
dan kamu menunggu.

bukan kamu...
harap marah
ini berkekalan.
senda ini sinis
harap dimaafkan,
dan jarak kata yang memisahkan,
harap faham mudah
pada erti disampaikan.
Read more

29 September 2009

Terpedaya

0 comments















Mainan kata sukar diramal,
apatah lagi pada samar maksud perkataan.
Senyum dibibir menyaksi,
rai kau terlalu awal kekalahan yang berikutnya.
Sedang garap hatiku,
penuh damba menanti bertemu,
menanti sudah gelak mati kau dalam suka.
Read more

Itu Berita Suka

0 comments


















O yang jauh dikenang,
yang dekat sayup mata memandang.

O biar pecah di mulut,
selindung tidak segala rahsia di perut.

O yang sapu tak lepas,
sayu lihat gali sendiri lubang buat diri lemas.

O nanti resah masa terhenti,
buang perkara pada tidak dipuji.

O lemah deria anggota segala,
menanti yang tuli bertemu yang buta.
Read more

Permainan Duka

0 comments












Kerna telah bermula rasminya,
kerna telah siap persediannya.
Maka gertak akan selama berbunyi.
Suara semarak api yang dulu.
Ya, kerna kerut dahi tak bisa sembunyi,
dan nada yang tak pernah selindung
hasrat dalam dada,
nampaknya (sangat) jelas.
sedarnya tak perlu siapa mengajarnya.
O itu aroma bahagia,
tidak pada fatamorgana suria.
Ya, tidak sesekali nampaknya...
Read more

Ku Amat Menanti Langkah Berikutnya

0 comments

















Hai jiwa yang mengaku punya kuasa,
runtuh kamu pabila tak teguh,
ikatan ini hanya pada ramainya suara.
Tak mungkin cita bisa melawan
kukuh ikatan yang bersaudara.

Hai pemilik yang enggan mengundur,
juang mu pada noktah yang lingkup.
Percayalah!
telah kusaksikan,
akan kunantikan yang berikutnya.
getar hati ini pada yang Satu.
padahal kecewa dikau pada yang rosak.
Selamanya!
Ya, selamanya.
telah kuhantar bahtera sedang kamu terlena.
pada kamu yang baru cuba melangkah
ke haluan berikutnya.
cuma dua pilihan andaiannya.
ku mengalah...tak mungkin,
atau selamanya kau berduka.
Read more

Kesudahan Itu Sangat Manis

0 comments











O nyawa yang diberikan kefahaman,
sebisa mungkin kelebihan itu bisa rapuh
runtuh kerna faham tidak makna kata-kata
pada sinaran ilmu yang menerangi.
O tidak bisa selayak diri ingkar pada yang kuasa,
maka manis yang hujung itu
jugalah yang kunanti dambakan dalam jiwa.
O damai hati yang hendak digapai
tiada noktahnya berpenghujung,
saksikan.
dengarlah.
pada suara yang memekik umpama
tahu saja esok makannya dimana,
umpama hidup tak bertuhan
sedang hati tak pernah menafikan.
apakah yang lebih hodoh
dari pembawa panji-panji setia,
katanya,
ya, akur sendiri dia pembawanya.
O sedih kerna terpaksa menanti
masa datang tapi kembalinya
belum pasti,
jika ini buahnya.
ya, mana tidak bazir pada membelai,
buruk buah yang harap harum
wangi hasilnya.
ya, jikalau itu,
tidak perlu ku tunggu pembawa panji datang,
si tukang sapu sudah cukup
juangnya membara sampai kecundang,
pada helaian sutera dunia sementara.
Kerna yakin kemenangan disana...
Cukup pasti!
tewas lagi nampaknya...
engkau sendiri yang ku beri pilihan
untuk memulakannya....
Read more

Gembira Bermain Bersama

0 comments










Permainan itu gemar ku memainkan semula,
kerna kamu adalah pelakonnya.
pada layarnya terdapat kota kata
yang asyik bisa buat diri terleka.
Oh, ku rindukan permainan itu,
yang gemar ku memainkan semula,
kerna kamu adalah pelakonnya.
sayang simpul lakonan kehidupan,
tak sama ia pada aliran ini kehendaknya.
dan kerna kamulah pelakonnya,
amat gemar ku bermain permainan ini semula,
amat benar menanti kesudahannya....

p/s: (biarkan, kasihan)
Read more

23 September 2009

Jangan lawan...

0 comments












Seawal jelajah,
apakah pesan yang lebih istimewa,
kudengari malah terlalu jarang.
"Jangan lawan..."
pada siapa.
aku.
engkau?
siapa yang lebih ketahui dari Dia.

"Jangan lawan..."
pada siapa.
masakan diri kerdil,
dapat gegar,
malah ketahui tidak?
malah dengan apa?

Sudah kaukecut,
belum kulakukan apa-apa.
malah selamanya,
apakah lingkup dapat membayar harga,
detik-detik berlalu yang tak dapat dibeli.
Ya,
andai besar daku pada yang membelai,
selamanya kasih bukan padamu,
selamanya bukan.
kerna lawan ku bukanlah dikau,
dan ketahui ku siapa yang dibesar.
patut syukur dia pada yang Kuasa,
dan kau yang memberi,
patut dihormati selayaknya,
jikalau tidak pasti berlawan jawabnya...
Tidakkah kau berfikir begitu?
Read more