Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
30 Julai 2012
Cuma...
Posted by Ibnu Sobri at 1:00 PG 0 comments26 Disember 2011
buntu idea.
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 comments24 Disember 2011
kalimat.
Posted by Ibnu Sobri at 2:23 PGkerna kalam kita mengenal-Nya. dan pada erti kata maka kita cuba memahami dimana letaknya diri dalam jagat raya...
pada seteru usai kayu2 yang memegang buku2 aku yg kusam kesunyian. maka tatapan buku itu buat sedar yang aku kini jauh dari ruh yang pernah mengjenguh aku tatkala kukenal akan makna percaya. maka haru aku kini sendirian bukan kerna kurindu; bukan jua kerna kumegah; dan bukan kerna aku agung dirimu tinggi dari bisa yang sepatutnya. teguh yang itu tak pernah diri kecoh dari benar jalannya. maka ingin diri ini kecapi sekali lagi deruan rindu pada makna kata2 yang membangun jiwa. pada tulisan2 yang carik hati ini bisa pecah maksud betapa kerdil aku ini bernyawa. pada pentas2 caritan yang dengannya kembali aku menghampiri jalan taqwa...
"Betapa juapun kita harus percaya, bahawa kebaikan juga yang menang. Sebab asal-usul kejahatan kita bukan jahat, hanya baik semata. Kalau kejahatan pernah menang, hanyalah lantaran dorongan nafsu. Bila nafsu telah reda, kebaikan jualah yang kita junjung. Sebab itu hendaklah kita percaya penuh dengan Iman dan baik sangka pada Tuhan. Itulah Falsafah Hidup" ~ Buya HAMKA
maka sekali nafas sudah cukup tahu aku ini bakal hanyut dan diri bisa lingkup. namun harapan tak pernah sudah aku himpun pada-Nya. yang diri ini bisa kenal dan hati mula cahaya semula. yang pada selindung awan mendung menghimpit mentari, cahayanya tak pernah padam sedia untuk menerangi pada cukup nisbah masa tatapannya...
***
21 November 2011
bagaimana.
Posted by Ibnu Sobri at 1:53 PTG10 November 2011
memori
Posted by Ibnu Sobri at 7:36 PG 0 commentsmengerti daku akan peristiwa tak akan kembali sebagaimana
27 Oktober 2011
Dalam yang dalam...
Posted by Ibnu Sobri at 12:06 PG 0 comments
andai hati dan jiwa dikuasai oleh emosi dengan megah.
dan turut diri pada hujung jurang yang dalam...
kemanakah??? harusnya dilepas segala perasaan.
andai ku nanti, maka jawapan telah lama ku sengsara
mencarinya. ketemu tidak malah butuh aku pada
kemarau hati yang berpanjangan. dari-manakah???:
" NOMAD
Salah siapa?
Bila dengar jadi tuli,
Lihat jadi buta,
Diam jadi bising,
Suka jadi dendam.
Salah engkau atau salah dia?
Lalu kemarau hati ini terus kontang,
Tanpa kedinginan air penjelasan,
Yang bisa merubah merah marah.
Segala sindiran serong,
Jelingan jelik,
Dusta durjana,
Bisa aku patah dan pendam,
Selagi tembok kesabaran belum luluh lebur,
Akibat panas hati yang terbakar.
Tapi saat itu pasti tiba,
Tika bara hati meledak,
Melemparkan segala kegusaran,
Melepaskan segala kesedihan,
Kerana aku masih di sini.
Ramadhan 1426 "
***
26 Oktober 2011
Sesekali enak pabila bercerita...
Posted by Ibnu Sobri at 3:45 PG 0 comments
bicara itu memang gamip bila tahu isi cerita,
tambah mesra pabila buah akal bergema pada
tambah tajam ilmu yang dicita. ooo... sesekali
merasai-nya buat kali kedua. supaya mekar dibawah
pohonan rimbun, yang dunia bersaksi aku jua
sempat ber-suka. dan bahwa pandangan melebar
hatta bicara pasti berbuah lagi fahaman mendalam
pada maksud kata yang bersuara:
"ooo... pada dunia yang dalam keadaan saksama,
andai runtuh, maka itu atas jiwa manusia. pada
sudut yang sukar aku melihat, maka saksiku akan
kejadian bukan pada keseluruhan-nya... "
+++
15 Oktober 2011
Bebas diriku dari kenangan lalu...
Posted by Ibnu Sobri at 12:30 PTG 0 commentskerna kenangan sukar dilupakan malah diterjemah. masakan,
kerna hati itu masih lagi sayu pada setiap suara dan mata yang
menyapa. dan kata-kata yang ku genggam pasti itu selalunya
buat diri lemah pada daya yang tak bernyawa....ooo, mengapa
dilepaskan sendiri. kerna telah tiba masa-nya. waktu buat berlabuh
pergi memori yang hampir pada hati. bahwa salam tak menyambut,
maka tadah aku itu harus pada tempatnya.....namun, bisa anggap
dikau temanku, takkan aku lupa. dan bahwa pernah sekali, harapan
itu menggunung tinggi. dan rasa masih ada, dan mekar ia pada
makna yang sebenar.....sebelum meresap ia ke bumi bersama
rintihan awanan, yang memahami... seakan mengerti apa yang
pernah diri lalui!
08 Jun 2011
Persimpangan
Posted by Ibnu Sobri at 11:15 PTG 0 commentsjalan itu perhati aku tak sudah. bersama kesesatan yang mengaburi pandangan mata. maka telah jelas yang ini bukan pilihan mudah. kerana kenangan tak bisa padam. dan kenal sudah aku akan kesal ini tak bersempadan. mana mungkin dengan mudah aku mampu laksanakan dengan saksama. maka di mana rayu hati ini terus menadah tangan dalam tangis meminta kembali. kerna kepulangan itu bukan suatu yang mudah dan temui pula aku akan persimpangan yang ragu2 aku akan bersih jalannya. maka dengan payah aku merenungi setiap genap kesilapan diri yang terampun. maka digamit dengan keresahan yang aku ini selamanya tak bisa lari darinya. maka tergamit erti kesedaran yang gelap akan laluannya. maka dimana dicari makna yang sembilu itu sudah pergi menjauh diri. mengapa aku terpisah pada sempadan masa yang tak dapat aku merentasinya. dan mengapa bermain minda dengan soalan yang sudah aku pasrah akan kehendak dengan jawapan yang pudar. dan mengapa perlu ku guris luka yang suatu ketika dahulu telah parah. mungkin kerna bermula kembali itu suatu yang payah. terbit pada embun pagi maka matahari yang mula menyinari sinarnya tidak dapat lagi kurasa. dan keindahan semakin melanjut pada usia dan semestinya telah lama pergi buat sekian masa. maka mana erti kebahagiaan andai kata kunanti. kerna pencarian itu tak pernah kucita. mungkin kerna pada perbatasan aku ini tidak arif pada erti dan makna pabila keduanya bermain di depan mata. kerna rasional itu telah menjadi hijab pada setiap laluan noktah pemikiran ini dicerna...
21 September 2010
Jumpa tidak. Menanti tidak.
Posted by Ibnu Sobri at 6:16 PTG 0 commentspada milik empunya bukan hakikat tapi beri ia
tadbir. buat bawa ia pada jalan redha. yakni apa
yang diwahyu dan lafaz pada bibir yang dimulia.
maka, pada hujan yang berlalu maka kembali
subur dengan hidup kembali apa yang melambai.
oh, hanyut pada keindahan. walau buta ini telah
bawa diri berlalu jauh dari sempadan yang
semestinya. oh, anggun pada tempatnya. maka
tunduk ku akur yang insan itu hirup ia udara
buat mekar ia pada amal. dan teguh hati yang
satu itu, harus mengerti kenal apa yang semesti
-nya. agar tidak namun akan tetap dipertanggung-
jawabkan kelak. kerna itu suatu yang pasti. maka
pada ukiran ketaatan yang sedikit mengah.
maka ku berlalu yang langkah itu harus tidak
mengalah. kerana fitan selagi hidup, ia takkan
berakhir. maka harap iti harus teguh pada
kebenaran. dan hanyut tidak buat sekian kalinya,
ya walau pengetahuan terkedepan bukan
milik empunya. bahkan azam seharusnya pimpin
diri ke jalan yang diredhai. kerana buta mata itu
tidak bahkan teruk pabila hati itu tak bisa
lagi serap keindahan. kebenaran. oh pabila hati
telah buta, maka cahaya tak bisa berlalu bahkan
kekal ia sesat tak kenal sempadan. maka bermohon
agar teguh ini tak bisa goyah. kerna payah bisa
mengah, tapi susah tak bisa bawa diri mengalah.
kerna cahya harus lurus. kerna hanya empunya
mengerti apa itu salah.ya pabila ilmu telah
masuk ia buat tafsiran yang benar. Ooo tidak
pernah layu, malah pohonan segar kembali
selepas simbah ia dengan butiran rahmat melangit.
Ooo hati kenal tidak keindahan malah pabila
telah berlalu ia dengan noda. Ooo mengerti tidak
malah pengetahuan pasti hanya milik-Nya.
Yang Maha Mengetahui. Ooo bermohon agar
langkah terus diberi pedoman. agar makalah itu
tidak gersang pada gerun yang lalu ia hanya
sekejap. sepetang malah pendek dari itu. andai
kata jiwa itu mengerti tidak, tahu tidak. maka
puji itu terus lurus pada yang layak. kerna telah
serah diri ini yang berlaku itu telah tulis ia
pada kitab mulia. dan tiada yang berlaku malah
ibrah itu harus kutelan tanpa kenal pahitnya.
andai itu beri ia pelajaran untuk aku kenal
apa yang patut. maka tak pernah hati ini sesal
malah yang berlaku itu pasrah ku yang syukur
itu harus ku agungkan. Ooo jiwa yang dimuliakan.
tak pernah ku kenal maka harap itu terus tanam,
yang kelak ku bisa hirup seteguk dari mata air mu.
ya telaga yang telah dikhabarkan. dicipta oleh
Yang Maha Agung buat mereka yang ikut bawaan
mu. aku pada dua tangan yang bertemu, aku
gertak bibir ini memohon segala kebaikan. walau
mata tak bisa mentafsir segala yang betul itu
letak pembawaannya. kerna yang mengerti hanya
Dia. milik segalanya. dan diperkenankan apa
yang ku pinta. kerna yang bakal terjadi pasti
berlaku. dan apa yang ditetapkan itu kehendakNya.
Ooo agar dapat ku selimuti gersang hati ini
dengan selimut iman, dan agar diri sedar pada
yang tetap yang rimbun takkan bisa buat
pergi apa yang hakiki. kerna yang berubah hanya
apa yang milik ia pada insan. yang merah. yang
hidup. yang mentafsir. dan kelak hasil darinya-lah
yang merimbuan akan buat kenal insan makna
derita dan apa bahagia....!
***
10 September 2010
Kekadang terpaksa melepas kau pergi
Posted by Ibnu Sobri at 5:17 PG 0 commentsbicara semestinya merentas semesta alam.
maka di situ maka buah bercambah. manis
rasanya dalam ikatan. andai kata pertemuan
itu dinanti perpisahan. dan bertemu berpisah
hanya kerna Tuhan. maka sekian kali, dalam
pilu hati kehilangan teman. maka akan ku
nanti saat tiba hadirmu kembali. kerna
ucapan tak bisa merungkap. dan basahan
linangan tak mampu mengubati jerih derita.
maka sudah semesti bahwa perpisahan itu
patut dimaklumi. reda yang andai kata ini
kehendak, maka dalam sendu doa takkan
terhenti lafaz ucapan enak bersua kembali.
kerna telah lama andai keras hati ini gagal
diubati. dan kalut yang menyerbu sudah
tentu buat diri hilang arah tujuan. tapi
bersama rahmat melangit itu datang kau
hadir bawa pemahaman. penawar bagi
perit susah yang ku sendiri pendam. maka
dengannya maka harap langkah kelak
bakal bersatu pada satu deruan. bersama
melangkah dengannya sedar kembali
bisik puji2an. yang menerpa kian kali,
maka mereka kenal tidak makna lelah.
maka ku yang mengikuti petunjuk ini
harus pasrah namun diri harus gagah
dalam usaha. kerna percaya itu yang
terkehadapan. bahwa rasa ingin bertemu
itu sudah jadi diri terpaksa melepas
kau pergi kali ini... dan agar bersama
rentesan masa maka Dia menerima
segala perlakuan, segala perbuatan,
segala permintaan. Dan padaNya-lah
tuju segala pengharapan....
***
08 September 2010
Andai kutahu
Posted by Ibnu Sobri at 5:07 PTG 0 commentspada sayup ucapan maka gerun rasa itu harus
pergi ia dengan lambungan harapan. kerna yang
pasti itu telah sekian khabar lamanya. dan berlaku
sudah apa yang terjadi. sekian yang dijanji. maka
dengan buah akal yang saksama. mengerti kita yang
bakal sambut kita segala yang dilafazkan. oleh insan
mulia, semoga selawat dan salam terus berkumandang.
dari lidah insan yang tagih akan agar dahaga kelak
bisa ditepis dengan air dari telaga yang dinanti. ya,
tidak hanya tapi khas buat ummati, ummati, ummati.
maka pada diri yang telah sekian tenggelam. tidak sedar
diri dalam lambungan kelemasan. dan mati itu selalu
dalam lingkungan. maka pada redup awan yang berlapis.
andai kata sedar diri pada garis cahaya yang menerangi.
sudah cukup untuk buat diri sedar. jikalau tidak, pada
detik itu maka peroleh masa buat bertakafur seketika.
bahwa jelajah itu terus berlalu, pada peristiwa2 yang
telah buat ia sangkut gelita. hingga kelam kini hati
pada pemahaman yang seharusnya buat mereka
bernama insan.maka pada celahan kabut ini, sukar untuk
nampak jalannya. andai kata terus, maka harapan itu
sekian tak pernah padam. dan menyerah andai kata
dengannya. maka petunjuk dapat dicerna. dan sekembalinya,
maka ikhlas itu harus ku hayun sehingga ke penghujung.
andai dengannya dapat diterima segala perlakuan amal.
maka itu sudah cukup membuat titis ini terus basah
pada penyaksian. bahawasanya, layak tidak tapi mana
mungkin diri kufur pada hakikat. bahwa kasihNya meluas
tanpa kenal sempadan. dan bahwa yakin tidak, tapi
jungjung mesti pada yang benar. semoga beroleh kemenangan.
dan ianya bukan yang dapat ditafsir pada takbir ini.
semoga yakin itu bawa kepada diri apa yang dikehendaki.
bahwa semalam berlalu buat diri mentafsir. peranan yang
telah sekian lama ia saksi lakukan. dan supaya betul kembali
apa yang serong. kerna kemudahan itu hanya pada yang senang.
merayu tidak. tapi harap tadahan itu takkan berhenti buat
sekian masa. selamat pergi. dan andai kata berjanji, sudah
pasti bertemu itu suatu yang mesti. tapi kerna hirup tidak
malah nyawa bukan kuasa empunya. maka doa kupohon,
agar masa ketika bersama bakal harungi lagi dengannya setelah
sekian masa. ku menanti....
***
06 September 2010
Pelepasan
Posted by Ibnu Sobri at 8:15 PTG 0 commentspada kelencongan yang telah berlaku. dan turut
ku berlepas dari kezaliman terhadap diri. bahwa
bersaksi Yang Satu itu patut ku junjung utuh.
dan sekali tidak mencari yang sama dengan-Nya.
wahai insan yang bersaksi. telah ada kau dan aku
diberi nikmat yang tidak empunya mereka yang
lebih layak. andai kata amal itu yang ditimbang tara.
dan sekali ini ku bersaksi dan redha tidak sama
sekali pada tali temali bersimpul yang ditiup.
dan pada sesat mereka pada kehendak sendiri.
zalim terhadapnya diri dan pada mereka
yang mengekorinya. bahwa pelepasan ini selanyak
nya kelak ingat diri. suatu yang berlaku pada
yang terkedepan. dan agar dengan bicara ini
saksi pada mereka yang bertasbih. agar peluk ku
pada satu kebenaran yang ku pegang utuh.
dan agar cahaya itu bakal menyinari disepanjang
perjalanan. hingga buntu ia pada tatapan masa.
maka pada penghujung yang berkah, berlalu ku
angkat tadahan merayu. moga terus dilindungi,
moga agar terus hati bersimpati, agar terus
tagih nikmat itu diberi dan sesal diri pada
kesalahan diri. dan padanya harapan itu ku
letak. bahwa apa selayaknya berlaku pasti terjadi.
agar ku dipimpin ke jalan yang selamat. dan
agar dengannya dapat ku bawa umpanya
hati yang lembut untuk turut sama meraih
nikmat-Nya. Moga diperkenan... moga mendapat
yang sebaik2-Nya. dan Dia jugalah kembali
segala penetapan... hanya yang haq!
***
30 Ogos 2010
Penawar
Posted by Ibnu Sobri at 7:37 PTG 0 commentssesal tidak dalam hayunan garapan hati
yang enggan diam. kerna telah lama ia lalu
pada daerah yang gelap. bisa saja buat hati
gundah, tenteram tidak tapi selamanya terus
berontak pada kehendak. yang harusnya ia
padam pada dingin air keimanan. maka sesal
ini tak ku tanggung malah buat kabar pada
sesiapa. tapi cukup bicara ini buat yang
mencari sinar. maka ingin ku katakan bahwa
kehidupan itu masih ada. walau tempat jijak
kita sekarang bukan madah sebenarnya. tapi
dengannya dapat faham kau gambaran apa
yang gagal capai ia oleh indera. petunjuk
yang kita daki selama ini. bahwa hadir hati
yang luhur ingin kembali itulah kuncinya.
yang roh itu tak bisa sejahtera hendaknya
andai kalut terus serabut. dan terus belenggu
ia dengan selabut hitam dosa noda yang
perlakukan. maka bagi diri ini yang masih
mencari, maka dapati ku tidak tapi yang benar
itu adalah tuju hanya segalanya hanya buat
Dia. moga pimpin Dia dan tunjuki apa itu jalan
petunjuk yang sebenarnya. jejak yang telah
lama kau serong. maka percayalah. dengan derita
itu maka hadirnya bersama kelapangan. walau
bisa buta tidak terlihat tapi dalam sedar tidak
bakal kau garapinya. sedarilah. ku pun dengan
susah payah cuba mentafsirnya. walau bukan
layak diri ini pada kelebihan. andai salah itu pada
sedar dan telah menyaksi ku sendiri makna
kebenaran itu. tapi harap itu harus ada, bahwa
itu merupakan sifat-Nya yang tak layak kita
sisih dan pandang mudah. kerna kebesaran hanya
buat Dia. layak Dia pada segala yang telah termaktub
pada kalam. moga harap itu akan ku selalu
dalam petunjuk, dan tidak akhir hayat selain
dalam pelukan iman yang payah ia biar jadi debu,
dan moga penawar itu capai ku pada hikmah makna
nya. ya sesekali, semua dengan izin dari-Nya.
***
04 Ogos 2010
Kedatangan
Posted by Ibnu Sobri at 2:37 PG 0 commentsdiri tak punya apa yang kau sendiri bawa.
maka pada bekalan sudah tentu harap tidak ku
agar hadirmu pada saat ini dapat tambah bekalan
pada kosong hati yang cuba menadah rintihan2
rahmat yang bercucuran turun dan agar lembut
hati simbah ia dengan pengetahuan yang jernih
ia bisa suci minda andai kata janji bertemu lagi
sekian masa. segala itu ketentuan-Nya yang pasti.
maka tika kedatangan diraih maka gema itu tak
lagi kedengaran di telinga. sergah pujian dari benak
yang bernyawa pasti juga yang tidak, secara terpaksa
dan juga mereka yang rela. maka pada saksi yang
sudah berebut akan nikmatnya oleh jutaan hati2
yang bersaksi, maka tadah tangan harus meminta
yang dengan hadir bulan ini maka tetap diri itu terus
pada jalan ini yang lurus. dan andai bertemu maka
noktah yang kuharapkan tidak lain selain pada
lorong yang tak pernah mengalah insan akan rahmat
yang luasnya, tatkala kau menyaksi kedua hujung
biru langit pada satu toleh kau antara keduanya.
maka ketika saat itu kuperoleh maka cukup juga
andai tambah ku pada pinta andai salah yang berderetan
itu hapus ia dalam keluh diri yang mengeluh sedar
akan gelap serbuan ia pada hati untuk sekian lama.
maka andai kuperolehi, segala puji2an itu hanya
untuk-Nya. kerna pasti sudah maka Dia Yang Maha
Pengasih dan Penyayang dari segala lautan kemesraan
dan kasih yang pernah wujud di dunia...
***
02 Ogos 2010
Mencari
Posted by Ibnu Sobri at 12:24 PG 0 commentsmaka pilih itu pada hati yang terikat, tapi itu semua
mungkin bisa putus andai kata rapuh talinya dan andai
simpulan itu kuat tidak menahan daya yang datang cuba
memutusnya dari sudut yang pelbagai. masakan, kerna
sedar diri laluan ini bisa dayung ia pada mengah tangan
yang tak larat sanggup lagi melihat satu demi satu pergi
maka hati yang terluka itu tak bisa dan mungkin sukar ia
pulih sebagaimana asalnya. maka diri cuba buat kali ini
memberi peluang, bukan pada sesiapa tapi malah buat
diri untuk menerima keburukan malah mungkin itu bukan
ia sebenarnya tapi cuma malah tafsir sendiri. maka pada
keistimewaan ku menyaksikan sedar tidak insan cuba
memusnah dirinya pada akibat perbuatan yang lihat
ia satu yang sempurna. masakan berlaku. kerna pabila
rasa itu dalam, tak perlu ia pada lemah tolong si laknat
durjana mentafsirnya. apatah mempamerkan segalanya
umpama sudah terjurai hijab pada maklum yang tak
punyai kuasa ia apa yang ghaib. maka selindung ku cuba
pada rasa yang semestinya melihat apa yang mungkin
bukan madah ia dari pengalaman yang ditimba, tapi
mungkin kiasan permainan juga hendaknya. kerana pabila
mentafsir maka hadap kita pada sentuhan yang mungkin
buat yang salah rasanya benar. ya, apa akan daya pabila
kehendak itu lemah dan senang kuasai ia oleh
durjana yang telah bermain selamanya dengan bayangan.
tapi hendaknya ku menyaksi. bahwa yang miliki mereka
upaya yang sebenar dalam tetap yang tak bersempadan
dengan petunjuk Yang Kuasa. maka taklim itu mereka
pada hakikat sebenar, dan bisa lihat segala yang tersirat
dengan izin-Nya. pada usaha yang lemah tak mungkin bisa
diri peroleh apatah itu bukan nurani yang sejati. kerna
berbakti kita hanya pada-Nya. dan balasan itu milik-Nya
segala, Yang Maha Adil dalam pembahagian kurnia-Nya.
maka dalam tadahan yang masih hingar pada wujudnya
kehendak yang batil, maka ku turutkan ucapan yang agar
dengannya tetap aku pada jalan yang lurus ini hingga akhirnya.
***
30 Julai 2010
Bukti
Posted by Ibnu Sobri at 2:23 PTG 0 commentskerna tak ketahui aku mana jalan tamatnya,
dan dimana ia bakal berlaku.
kerna selagi hirup ku udara kedamaian
dam hati yang diluarnya bagai taufan
yang meribut, maka akan ku katakan
bahwa saksiku bukti2 yang nyata,
walau lemah diri sering saja bawa
belenggu diri ke lembah hina.
maka bukti2 yang bermain pada indera
menjadi madah mengenal bahwa dia
sering memberi rasa dalam sedar
hati yang kadang2 alpa mengingati
dan membesar padanya empunya kuasa.
maka sepanjang kembara ini ku turuti
laluan yang padanya kekadang sempit terasa,
maka bayangan bukti2 itu sering saja
membuat diri serba salah. kerna pada
akal diri bertepi, tapi pada pandangan
ia membuka peluang untuk diri meresap
cahaya, selamanya mengadah.
maka bukti2 telah menjadi saksi
bawa akan hadir tiba jua masa yang
sering kita tinggal dibelakang. dan bahwa
Dia selamanya mengaharapkan yang
hambanya akan mengikuti apa yang
telah dimaklumi ia akan sedikit
pengetahuan yang ghaib. tapi terlepas
Dia dari kehendak pada kita walau
tunjuki Dia pada kita. maka harapan itu
sebenarnya kepada kita. kerna masakan
yang mengakui Maha Pengasih
bisa tidak tapi melakukan apa
segala kehendaknya. maka pada bukti2
kita meletakkan alasan untuk berkasih
pada erti kata sebenar. dan pada bukti2
maka akan jelas yang benar dari yang salah.
kerna telah anggapan dan kemahuan
menyesatkan meraka yang telah terpengaruh
dengannya. dan telah angkat mereka lebih
darjat dari kita. jadi masakan meletak kita
harapan pada suatu yang landasan tidak kemas
dan tidak tahu akhirnya dimana. and rahsia2
itu miliknya selama. kerna insan menilik
pada lemah durjana makhluk terlaknat
itu hanya perkara yang dimaklumi. tapi
sedar tidak kita perumpamaan bersaksi
yang dalam ia tidak hanya setitis masin air
dari luasnya lautan dalam. jadi masakan ditagih,
jadi masakan dibenci. kerna harap rumpun itu
mekar pada nikmat ini. dan kekadang
harus syukur itu datang di depan pabila
menyaksi susah insan pada hirup ia terus udara
dunia. sedang kita bersenang pada kerusi
malas bermegah dengan pemberian ini.
jadi masakan. kerna telah bersaksi bukti2.
dan pabila berharap maka sungguh itu
hanya pada suatu yang memiliki kehendak
tidak hanya milik bagi-Nya segala...
***
29 November 2009
Kehidupanku (My Life)
Posted by Ibnu Sobri at 7:12 PG 0 comments18 November 2009
Setahun Hari yang Suntuk
Posted by Ibnu Sobri at 2:51 PG 0 commentstapi andai ini kehendaknya,
maka saksi aku,
suntuk hari buat setahun rasanya.
malah ini juga berupa
nikmat-Nya yang harus
syukuri sampai
terbit mentari yang panjang
takkan dapat ku bayar.
kerna semua miliknya...
Setahun hari yang suntuk aku
langkahi dengan lembaran
yang aku nanti ia dengan
penuh debar.
entah apa bikin aku
keesokan hari
aku tidak mengerti
malah bukan pengetahuanku
rentas semua itu berlaku.
Andai tangis itu
terus basah mata kernanya.
Maka akan saksi aku,
suntuk hari yang panjangnya
setahun.
maka akulah yang memulakan bicaranya.
kerna dapat ku semua ini dari Dia.
harap terus syukur dalam diam,
takkan sangka,
tak pernah pinta,
yang hari itu akan suntuk
setahun lamanya dalam diriku...
12 November 2009
Wahai !
Posted by Ibnu Sobri at 12:29 PG 0 commentsmaka rencana kali ini
sudah pasti dapat buat diri
pusing pening pada maknanya.
tahu bukan malah
tidak ingin lagi
mula satu yang sudah ingin tamat
akan ia, dalam titisan
kenangan yang berlalu.
maka permainan ini ku dapati
tiada noktah.
maka sudah pasti kucuba sedaya
masih belum utuh teguh,
pendirian jika masih diri
uji dia dalam kepayahan
yang tidak tahu mana datangnya.
bukan merintih malah cuba
sedaya buang itu dari sikap
yang perlu dibina kuatnya.
tapi kerna kau namakan,
inilah buah pengajaran,
pada erti yang sebenar,
jika aku ingin bermain dengannya.
ya, besar dalam madah yang telah
bersedia,
tapi cuma kuharap bukan lagi,
mainan perasaan kau mainkan,
kerna itu bisa saja
buat semua terseksa,
walau kau katakan aku,
orang yang mudah sembuh darinya.
tolong, ini permintaan
yang kuharap dikau tunaikan.
kerna ukuran matang itu rapuh
malah mungkin payah.
maka pengajaran harus perlu
berjalan walau kurasa payah.
susah.letih. kerna kau yang mengingatkan.
semoga hidayah itu terus mekar,
pada subur butiran hujan,
yang sejuknya menyegarkan pandangan,
dan turun ia dalam ukuran
yang tak bisa kita tahu dimana
nisbah timbangnya yang sempurna,
buat rata pada yang merasa.
Maha Suci Engkau yang menurunkan
buat pengajaran,
buat peringatan,
buat yang mengetahui,
dan buat yang mengambil teladan.



