memerhati dari jauh... maka benar bahwa sesekali rasa itu menipu. maka pada damai jiwa yang aku segani, kelibut ini seakan tak mengenal lagi erti rasa. aku yang memanggil diri agar kembali, usai sudah lelah seakan-akan sahutan tak bergema. maka melihat kembali jejak perjalanan lalu, kusedari yang sesat jalan pulang, kini aku hilang dalam debu ribut yang tak tahu bila reda-nya. maka buta rasa ini bawa diri jauh pada sempadan yang tak kenal makna segala. maka berpautan diri hanya pada logika yang bisa menafsir putaran maya. maka bersaksi aku kini dalam gelap yang harap lurus sinar itu bisa tunjuk haluan kembali...
Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
01 September 2012
Jiwa...
Posted by Ibnu Sobri at 9:31 PTGmemerhati dari jauh... maka benar bahwa sesekali rasa itu menipu. maka pada damai jiwa yang aku segani, kelibut ini seakan tak mengenal lagi erti rasa. aku yang memanggil diri agar kembali, usai sudah lelah seakan-akan sahutan tak bergema. maka melihat kembali jejak perjalanan lalu, kusedari yang sesat jalan pulang, kini aku hilang dalam debu ribut yang tak tahu bila reda-nya. maka buta rasa ini bawa diri jauh pada sempadan yang tak kenal makna segala. maka berpautan diri hanya pada logika yang bisa menafsir putaran maya. maka bersaksi aku kini dalam gelap yang harap lurus sinar itu bisa tunjuk haluan kembali...
30 Julai 2012
Cuma...
Posted by Ibnu Sobri at 1:00 PG 0 comments20 Januari 2012
Mencari dirimu.
Posted by Ibnu Sobri at 1:16 PG 0 comments02 November 2011
Mencari.
Posted by Ibnu Sobri at 10:53 PTG 0 commentsMencari makna dalam erti. maka terkulai-kulai aku
dalam meniti maksud bagaimana alam berbicara. maka,
kenal pasti aku akan sempadan ini takkan dapat ku
dekati. dan faham aku yang berbeda kita pada alam
menyeluruh. kerana pabila di-suara, maka berbalas
sahutan bukan pada resmi yang dinanti... ooo, pabila
sukar diri merasakan apa yang terjadi. maka sedar
diri masih kurang pengetahuan pada makna kehidupan
sejati. ooo... mengapa alam begitu misteri, sehingga
terpersona aku dibuai dengan mimpi-nya sesekali...
***
27 Oktober 2011
Dalam yang dalam...
Posted by Ibnu Sobri at 12:06 PG 0 comments
andai hati dan jiwa dikuasai oleh emosi dengan megah.
dan turut diri pada hujung jurang yang dalam...
kemanakah??? harusnya dilepas segala perasaan.
andai ku nanti, maka jawapan telah lama ku sengsara
mencarinya. ketemu tidak malah butuh aku pada
kemarau hati yang berpanjangan. dari-manakah???:
" NOMAD
Salah siapa?
Bila dengar jadi tuli,
Lihat jadi buta,
Diam jadi bising,
Suka jadi dendam.
Salah engkau atau salah dia?
Lalu kemarau hati ini terus kontang,
Tanpa kedinginan air penjelasan,
Yang bisa merubah merah marah.
Segala sindiran serong,
Jelingan jelik,
Dusta durjana,
Bisa aku patah dan pendam,
Selagi tembok kesabaran belum luluh lebur,
Akibat panas hati yang terbakar.
Tapi saat itu pasti tiba,
Tika bara hati meledak,
Melemparkan segala kegusaran,
Melepaskan segala kesedihan,
Kerana aku masih di sini.
Ramadhan 1426 "
***
26 Oktober 2011
"Jangan melawan"
Posted by Ibnu Sobri at 4:10 PG 0 comments
terdetik daku akan imbauan perjalanan yang lalu.
bahwa setiap gerak maka ku diperingat agar
'jangan melawan'... pada setiap langkah, maka
kembara diselaputi akan makna yang tersirat.
maka berlalu sudah masa. sungguh gagal daku dari
pemahaman sebenar. bahwa 'jangan melawan' itu
harus tuju buat siapa dan mengapa???
ooo... perjalanan yang sepatut mengajar terus erti
hidup. kini keliru bergelutan dalam himpunan
makna... dimanakah???
maka andai silap diriku nampak suatu peristiwa
dan rentetanya. bukan itu salahku, andai pola
perjalanan waktu berkata yang itu bakal berlaku.
maka dimana terletak kejahilan andai bersua
dikau tidak pada keadilan yang di-suara. maka
apakah itu keseimbangan cuba dibina andai
runtuhan yang dirumpun bukan dari asas yang
kukuh... maka 'jangan melawan' tiada ertinya
pada daku yang lemah! justeru berbangga dikau
pada kalimah itu yang masih bergema dihujung
benak fikirku.
+++
Sesekali enak pabila bercerita...
Posted by Ibnu Sobri at 3:45 PG 0 comments
bicara itu memang gamip bila tahu isi cerita,
tambah mesra pabila buah akal bergema pada
tambah tajam ilmu yang dicita. ooo... sesekali
merasai-nya buat kali kedua. supaya mekar dibawah
pohonan rimbun, yang dunia bersaksi aku jua
sempat ber-suka. dan bahwa pandangan melebar
hatta bicara pasti berbuah lagi fahaman mendalam
pada maksud kata yang bersuara:
"ooo... pada dunia yang dalam keadaan saksama,
andai runtuh, maka itu atas jiwa manusia. pada
sudut yang sukar aku melihat, maka saksiku akan
kejadian bukan pada keseluruhan-nya... "
+++
15 Oktober 2011
Bebas diriku dari kenangan lalu...
Posted by Ibnu Sobri at 12:30 PTG 0 commentskerna kenangan sukar dilupakan malah diterjemah. masakan,
kerna hati itu masih lagi sayu pada setiap suara dan mata yang
menyapa. dan kata-kata yang ku genggam pasti itu selalunya
buat diri lemah pada daya yang tak bernyawa....ooo, mengapa
dilepaskan sendiri. kerna telah tiba masa-nya. waktu buat berlabuh
pergi memori yang hampir pada hati. bahwa salam tak menyambut,
maka tadah aku itu harus pada tempatnya.....namun, bisa anggap
dikau temanku, takkan aku lupa. dan bahwa pernah sekali, harapan
itu menggunung tinggi. dan rasa masih ada, dan mekar ia pada
makna yang sebenar.....sebelum meresap ia ke bumi bersama
rintihan awanan, yang memahami... seakan mengerti apa yang
pernah diri lalui!
26 September 2011
Buka-kah hatiku ini???
Posted by Ibnu Sobri at 9:05 PTG 0 commentsmencium bau tanah. hatta mengingat akan diri asal usul kejadian dan
destinasi kembali-ku. namun bisakah sampai aku pada makna tersirat
yang gapai aku pada awanan sepi itu tak menyebelahi, tapi bisa saja buat
aku ini berhimpit pada kesesatan yang melewati!!! maka dimana pergi,
telah ku bersua apa yang perlu. namun yakin dalam diri tidak cukup
buat diri ini bergerak justeru bergegas menuju kepada-Nya. di mana
silapnya, maka masih belum ku ketahuan. namun pada redah kembara
hidup ini, ku cuba pikul juga makna disebalik yang tak padat ku fahami.
mengapa!!! tidak cukupkah air yang mengalir itu buat saksi yang langkah
dalam payah itu, jalannya berliku-liku. sesalan ini takkan pergi. dan
akan terus bangun jua aku, membina jiwa yang padanya kenal erti
realiti pada sempadan ayu warna kehidupan abadi....
08 Jun 2011
Persimpangan
Posted by Ibnu Sobri at 11:15 PTG 0 commentsjalan itu perhati aku tak sudah. bersama kesesatan yang mengaburi pandangan mata. maka telah jelas yang ini bukan pilihan mudah. kerana kenangan tak bisa padam. dan kenal sudah aku akan kesal ini tak bersempadan. mana mungkin dengan mudah aku mampu laksanakan dengan saksama. maka di mana rayu hati ini terus menadah tangan dalam tangis meminta kembali. kerna kepulangan itu bukan suatu yang mudah dan temui pula aku akan persimpangan yang ragu2 aku akan bersih jalannya. maka dengan payah aku merenungi setiap genap kesilapan diri yang terampun. maka digamit dengan keresahan yang aku ini selamanya tak bisa lari darinya. maka tergamit erti kesedaran yang gelap akan laluannya. maka dimana dicari makna yang sembilu itu sudah pergi menjauh diri. mengapa aku terpisah pada sempadan masa yang tak dapat aku merentasinya. dan mengapa bermain minda dengan soalan yang sudah aku pasrah akan kehendak dengan jawapan yang pudar. dan mengapa perlu ku guris luka yang suatu ketika dahulu telah parah. mungkin kerna bermula kembali itu suatu yang payah. terbit pada embun pagi maka matahari yang mula menyinari sinarnya tidak dapat lagi kurasa. dan keindahan semakin melanjut pada usia dan semestinya telah lama pergi buat sekian masa. maka mana erti kebahagiaan andai kata kunanti. kerna pencarian itu tak pernah kucita. mungkin kerna pada perbatasan aku ini tidak arif pada erti dan makna pabila keduanya bermain di depan mata. kerna rasional itu telah menjadi hijab pada setiap laluan noktah pemikiran ini dicerna...
29 Oktober 2010
Cahaya petunjuk.
Posted by Ibnu Sobri at 8:07 PG 0 commentssesekali tergaman aku akan kasih yang ia
timbulkan dalam jiwa. dan patut balas tidak
menyambut, maka pujian terus basah ia pada
ingatan. yakni tulus itu harus pergi pada suatu
makalah kebenaran. yang tak kenal penghujung.
maka pada debaran ini ku hanya serah segalanya
pada pemilik empunya alam. maka pada kekok
bicara aku yang tidak ketahuan akan maknanya.
terus kucuba walau damai perasaan itu tidak cita.
dan pada maksud kusampai erti kata yang mungkin
tak bisa mengerti engkau akan hasil tujuannya.
tapi tadah tangan ini terus kuharung. yang
pemberi manfaat itu bukan aku jiwanya. maka
siapa beroleh ia cahaya. maka akan kedapatan yang
sinarnya takkan padam. dan ilmu yang berbekal
dalam jiwa harap terus bentuk perwatakan yang
sudah memang anggun pada zahirnya. maka harap
itu terus kuharung dalam takut yang menerpa...
***
25 Oktober 2010
Peperangan perasaan.
Posted by Ibnu Sobri at 11:47 PG 0 comments
sesekali hujanan meribut kelam dalam hati.
perasaan yang sukar diterjemah apatah lagi
hendak toleh ia bersuara. kerna dapatan yang
menanti itu hadir ia pada guguran daun
bertebaran, jatuh ia menghampar merimbun
pada jalanan. kuning ia setelah basah dengan
kehijauan yang melunakkan pandangan...
***
11 Oktober 2010
Mahligai malam.
Posted by Ibnu Sobri at 8:17 PG 0 commentsgembira buat si pencinta rembulan. dan kerlipan
bintang2 begitu asyik hingga lalai seketika diri
dengan khayalan. mesra bak erat itu sudah lama
gengam bersama akan ikatan itu dengan kuat. tapi
masakan yang hadir itu bisa kekal ia suci dalam
hati. jika air siramannya berhenti dari hujanan
kasih sayang. dan gersang ia akibat kering angin
kekalutan. bisa pergi berbuah kasar dengan tajam
duri2 di dahan. maka pokok itu bisa rimbun. tapi
rasa itu belum wujud. kerna apa yang dilihat itu
tidak dapat timbul dari air mata perasaan. dan
hasad yang menguasai terus angkuh ia dalam
ramai. kerna tidak sedar yang akhir diri keseorangan
tak berteman. tapi kerna cari mengerti yang ada
itu tidak wujud. hatta kerna bersama, maka takut
itu hancur. tapi demikian belum kukuh hujah
engkau berjiwa kejam. kerna kelak apa yang
dilaksana, soalan darinya akan berpanjangan.
selesai pada hujung sempadan yang tidak ketahuan
akan tamatnya. maka apakah derita itu mesti kita
pendam pada cubaan menguasai insan. kerna
seharus pelukan diri itu kuat memaling segala
yang merosak diri dari dalam. masakan, kerna
cahaya itu diraih belum sinarnya gemerlap pada
merah nyalaan hati kedukaan. oh enak terasa
andai diri kenal yang rasa itu wujud pada hikmah
yang tak mengerti aku akan maknanya. dan
kehendak melewati suatu suasana yang sendiri
cuba mengerti izzah yang ada dalam perjuangan.
masakan diraih, kerna cetek pengetahuan belum
dapat membentuk satu mahligai yang pesona
ia terbit dan nampak hingga luaran. kerna yang
dalam harus genggam erat, dan luhur ia pada
niat yang suci tertumpu pada suatu yang telah
diberita sejak dari awalnya. aku menunggu hadir
bicara yang bisa sejuk baraan hati keinsafaan. pada
sifat yang bisa dingin segala persoalan. dan agar
erat lagi petunjuk yang memayungi aku dengan
realiti kehidupan... oh agar bisa timbul terbit
suatu yang usaha sedaya aku bina?
***
10 Oktober 2010
Senyum pagi.
Posted by Ibnu Sobri at 4:07 PTG 0 commentsdan renyai hujan asyik di luar, bawa bersama rahmat
dan suasana alam kembali ceria. pada mentari yang
menanti terik aku akan sinarnya. belum hadir dengan
hangat cahayanya. buat bisa diri gelisah. apakah telah
ku berbuat salah. sampai menyendiri maka menjenguk
tidak. masakan! oh pada rentetan awan yang melayang.
ku harap pasti yang hati ini sama2 bertasbih suka. dan
bahwa syukur itu kalimah mulia. pada pengabdian itu
ku harungi jua payah dan hati telah lama derita. kerna
beroleh tidak, maka serong jalan itu serik aku akan
kembali melaluinya. oh, pada derita yang aku mulai
akan kisahnya. maka belum cukup hati ini sembuh
akan sakitnya. maka dapati aku yang sinar itu semakin
malap di dalam jiwa. maka harap itu aku dapat teguh
dengan bantuan dariNya. asbab jahil diri tidak kenal
ilmu yang dapat merawati akan calarannya. maka telah
usaha segala kemampuan. maka berlindung dan harap
bantuan datang dari Tuhan. bahwa semoga bisa sembuh
segala penyakit... dan bisa lihat kembali wajah insan
yang sebenar miliki hati dengan makna yang dalam.
maka pada kekok ku berwajah manja. sedari yang sayang
itu telah lama hilang. dan hati kaku akan pengharapan
yang dijanji insan...
02 Oktober 2010
Pujangga di tepian.
Posted by Ibnu Sobri at 5:22 PTG 0 commentspada kekok tampil diri bawa usaha. bahwa yang
berlalu bisa pergi, tapi pada hujung benak hati ini
calar itu gagal ku ubati. maka pada rintihan ku
menyepi bahwa kelak akan damai semua ini. maka
pada jernih air yang mengalir, bisa diketuk suatu
yang keras ia pada sifatnya. maka selagi hirup udara
ini, harap diri itu terus ku kata. dalam diam bahwa
supaya masa itu bisa bawa jiwa pada sempadan
yang ku bisa gapai. dan pada kecelaruam calaran
yang masih berdarah, henti ia pada tamat masanya
berhenti. kerana tidak dipinta, andai terus hujanan,
kisahku bersama fitan takkan sudah. kerna kehidupan
ini sendiri suatu fitan. ooo... kesilapan yang lalu
harap takkan berulang. tapi masakan. kerna lemah
kehendak dan kurang daya. dan ku insan mengerti
tidak. masakan berlalu maka noda itu terus bawa
diri mengauli kegelapan. ooo, sentak hati yang takkan
ketakutan. maka kelak keras raja diri itu, cuba
sedaya ku elak. kerna andai kali ini gagal kutepis.
maka kelak bisa saja diri runtuh, punah pada harapan
semalam. ooo, aku yang bersaksi, maka enak itu
cuba ku selidiki. kerna yang pasti tetap berlaku. dan
yang segala yang suram tak bisa terjadi andaikata
tidak tulis ia pada kalam. ooo... diriku yang hina.
***
16 September 2010
Apa yang hilang hendaknya berganti
Posted by Ibnu Sobri at 9:48 PTG 0 commentstak sudah. maka mengerti tidak. andaikata
benar bicara pada jelasnya pun, maka tegas
ini bakal disalah ertikan. maka bagaimana?
maka pada tebusan yang sudah, tidak tahu
bahkan bukan kumiliki pengetahuan itu.
tapi pada selekoh panjang perjalanan maka
tengok aku harus tunduk. agar tak menimpa
kemalangan. bahkan yang terjadi bakal berlaku.
dan apa kehendakNya bakal terjadi. maka
kayuh itu harus mengah hanya untuk mendapat
akan Dia. maka yang memberi, yang menerima
pada zahir tidak nampak aliran disebalik
tabir ghaib. maka syukur yang berdendangan
harus mesra pada kalbu. agar tenang datang
menerjah. dan gemerlap ia dengan cahaya
akan sentiasa sinar ia pada haluan. maka
apa yang hilang hendaknya berganti. dan andai
sendu mengenang tidak terdaya membawa
datang kembali. dan sungguh benar yang hilang
itu pada yang haq. bukan kehendak insan yang
lupa lemah mentafsir nilai harganya. maka redha
itu harus. syukur itu harus. dan gerun itu
perlu andai telah melampau diri dari batasnya
yang pasti. agar moga kejahilan ini tidak meraih
azab selayaknya diri terus mohon agar ampun
diraih sebagai balasnya. dan pada kerendahan,
maka pasrah itu ku hayun semoga Dia memberi
balik apa yang hilang. dan layak itu yang berganti
lebih baik dari yang hilang. kerna itu janjiNya.
namun andai layak diri terima. tapi sudah suntuk
jiwa ini merana pada kejahatan yang dilakukan
oleh tangan. sedar tidak tapi sendiri yang punya
angkara. hingga gelap itu gagal kutepis. maka belenggu
ini masih dapat tidak kulepaskan. maka harap
bermain pada takut yang meluap. tentang bahana
yang menerpa. bila tentu maka bakal terjadi akannya.
maka, supaya diri tetap teguh pada penyaksian.
dan moga dipermudah segala urusan. dan tidak
terbeban dengan suatu yang tiada daya diri mengharung
akan kabutnya, buasnya. semoga sabar dijadi
perisai. dan pelindung hanya pada diri yang berserah.
dan apa yang dimulut itu sesuai dengan apa yang
dihati. dan moga diri terlepas dari dakwaan pada
hari yang membangkit. dari segala permasalahan.
dari segala tuduhan. kerna yang benar itu datang hanya
dari Tuhan.
***
04 Ogos 2010
Kedatangan
Posted by Ibnu Sobri at 2:37 PG 0 commentsdiri tak punya apa yang kau sendiri bawa.
maka pada bekalan sudah tentu harap tidak ku
agar hadirmu pada saat ini dapat tambah bekalan
pada kosong hati yang cuba menadah rintihan2
rahmat yang bercucuran turun dan agar lembut
hati simbah ia dengan pengetahuan yang jernih
ia bisa suci minda andai kata janji bertemu lagi
sekian masa. segala itu ketentuan-Nya yang pasti.
maka tika kedatangan diraih maka gema itu tak
lagi kedengaran di telinga. sergah pujian dari benak
yang bernyawa pasti juga yang tidak, secara terpaksa
dan juga mereka yang rela. maka pada saksi yang
sudah berebut akan nikmatnya oleh jutaan hati2
yang bersaksi, maka tadah tangan harus meminta
yang dengan hadir bulan ini maka tetap diri itu terus
pada jalan ini yang lurus. dan andai bertemu maka
noktah yang kuharapkan tidak lain selain pada
lorong yang tak pernah mengalah insan akan rahmat
yang luasnya, tatkala kau menyaksi kedua hujung
biru langit pada satu toleh kau antara keduanya.
maka ketika saat itu kuperoleh maka cukup juga
andai tambah ku pada pinta andai salah yang berderetan
itu hapus ia dalam keluh diri yang mengeluh sedar
akan gelap serbuan ia pada hati untuk sekian lama.
maka andai kuperolehi, segala puji2an itu hanya
untuk-Nya. kerna pasti sudah maka Dia Yang Maha
Pengasih dan Penyayang dari segala lautan kemesraan
dan kasih yang pernah wujud di dunia...
***
Kesedaran
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 commentsmaka tika itu selidik cuba mengorek pada lubang
rahsia andai kata ia menjelma. namun hampa
itu berjumpa ia pada gantinya. masakan. bertemu
tidak keruan tapi hikmah itu pasti cuba ku selongkar.
tapi bisa suatu yang bukan madah pengetahuan itu
ia tanam dalam benam hati yang cuba mendalami
erti kehidupan, dapat ia sergah mengerti maksud
pabila ia menegaskan rasa. tetap pendirian itu ku
bertemu ia walau sukar akibat kekadang goyongan
yang bermain pada minda, mudah ia memaling dari
sudut yang benar akan ia. tidak sesekali namun pabila
di mengerti maka mengalir basah mata tak berkesudah.
kerna sedar pada kesedaran maka telah lama kita
terpadaya oleh nyata khayalan yang bermain depan mata.
dan turuti kita kehendak ia pada elok saksi kita yang serong
akan pembawaannya, ya semestinya dalam sedar pada
jelek ia kelihatan dan buruk ia semestinya bukan hati kita
sirna menjauh akan ia selamanya. masakan. kerna andai
ini zamannya maka laluan ini pasti akan bawa juga kita
hendaknya. tiada dapat memaling kerna telah takdir-Nya.
tapi jika itu khabar ia pada selok sejarah yang beralun
madah telah sekian lama. maka sudah harap kita pada janji
yang dilafaz sudah pasti akan berlakunya. tapi pada janji buat
mereka yang menang sudah pasti mahar yang dibayar
hendaknya mahal dan perlu kerah segala tenaga. tapi tak bisa
juga bayar andai kata hati yang diterjemah mampir ia pada
saksi yang bergelimpangan, lurus tidak malah serong perbuatan
bukan pada semegah zahirnya. tontonan semata maka sedar
hati tidak pada perbuatan diperlihat. masakan. maka sedar
yang berpanjangan sudah tentu ketahui ku tidak apa kerperluan
nya. kerna andai ini bekalan yang pernah bawa kita pada puncak
maka hendaknya semua itu hanya atas izin-Nya. kerna
tak ketahui tapi cuba memahami yang kembara yang terpencil.
maka jawapan sebenar sudah tentu bertemu tidak malah
pabila selesai kita dikumpulkan disana...
***
02 Ogos 2010
Mencari
Posted by Ibnu Sobri at 12:24 PG 0 commentsmaka pilih itu pada hati yang terikat, tapi itu semua
mungkin bisa putus andai kata rapuh talinya dan andai
simpulan itu kuat tidak menahan daya yang datang cuba
memutusnya dari sudut yang pelbagai. masakan, kerna
sedar diri laluan ini bisa dayung ia pada mengah tangan
yang tak larat sanggup lagi melihat satu demi satu pergi
maka hati yang terluka itu tak bisa dan mungkin sukar ia
pulih sebagaimana asalnya. maka diri cuba buat kali ini
memberi peluang, bukan pada sesiapa tapi malah buat
diri untuk menerima keburukan malah mungkin itu bukan
ia sebenarnya tapi cuma malah tafsir sendiri. maka pada
keistimewaan ku menyaksikan sedar tidak insan cuba
memusnah dirinya pada akibat perbuatan yang lihat
ia satu yang sempurna. masakan berlaku. kerna pabila
rasa itu dalam, tak perlu ia pada lemah tolong si laknat
durjana mentafsirnya. apatah mempamerkan segalanya
umpama sudah terjurai hijab pada maklum yang tak
punyai kuasa ia apa yang ghaib. maka selindung ku cuba
pada rasa yang semestinya melihat apa yang mungkin
bukan madah ia dari pengalaman yang ditimba, tapi
mungkin kiasan permainan juga hendaknya. kerana pabila
mentafsir maka hadap kita pada sentuhan yang mungkin
buat yang salah rasanya benar. ya, apa akan daya pabila
kehendak itu lemah dan senang kuasai ia oleh
durjana yang telah bermain selamanya dengan bayangan.
tapi hendaknya ku menyaksi. bahwa yang miliki mereka
upaya yang sebenar dalam tetap yang tak bersempadan
dengan petunjuk Yang Kuasa. maka taklim itu mereka
pada hakikat sebenar, dan bisa lihat segala yang tersirat
dengan izin-Nya. pada usaha yang lemah tak mungkin bisa
diri peroleh apatah itu bukan nurani yang sejati. kerna
berbakti kita hanya pada-Nya. dan balasan itu milik-Nya
segala, Yang Maha Adil dalam pembahagian kurnia-Nya.
maka dalam tadahan yang masih hingar pada wujudnya
kehendak yang batil, maka ku turutkan ucapan yang agar
dengannya tetap aku pada jalan yang lurus ini hingga akhirnya.
***
17 Julai 2010
Tiada Suara
Posted by Ibnu Sobri at 4:30 PG 0 commentssiapa yang mundur,
maka dia dalam kerugian.
panggilan itu datang silih berganti,
menyeru kita jalan pulang.
tapi entah kekadang,
sedar kita tidak,
tapi terpesona dengan khayalan,
ku turut sama menghadapinya.
maka layak Dia Maha Pengasih,
membuka pintu bagi hambanya,
sebelum detik tahu hanya Dia
tertutup.
maka pabila manusia,
salah menyalahi,
maka sedarlah yang hanya
kebenaran akan
dibawa ke penghujung.
maka kata kau bawa benar,
dan aku salah segalanya.
maka ingin aku biarkan,
maka biar yang layak menentukan.
kerna kebenaran itu datang dari dia.
maka buat kau apa yang
kau usahakan,
dan tetap aku dalam amal
yang ku kerjakan.
maka buah mana yang
bakal ranum,
dan diterima?
serah hanya kita pada-Nya...
ku bersaksi,
dan kau bersaksi.
***



