memerhati dari jauh... maka benar bahwa sesekali rasa itu menipu. maka pada damai jiwa yang aku segani, kelibut ini seakan tak mengenal lagi erti rasa. aku yang memanggil diri agar kembali, usai sudah lelah seakan-akan sahutan tak bergema. maka melihat kembali jejak perjalanan lalu, kusedari yang sesat jalan pulang, kini aku hilang dalam debu ribut yang tak tahu bila reda-nya. maka buta rasa ini bawa diri jauh pada sempadan yang tak kenal makna segala. maka berpautan diri hanya pada logika yang bisa menafsir putaran maya. maka bersaksi aku kini dalam gelap yang harap lurus sinar itu bisa tunjuk haluan kembali...
Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
01 September 2012
Jiwa...
Posted by Ibnu Sobri at 9:31 PTGmemerhati dari jauh... maka benar bahwa sesekali rasa itu menipu. maka pada damai jiwa yang aku segani, kelibut ini seakan tak mengenal lagi erti rasa. aku yang memanggil diri agar kembali, usai sudah lelah seakan-akan sahutan tak bergema. maka melihat kembali jejak perjalanan lalu, kusedari yang sesat jalan pulang, kini aku hilang dalam debu ribut yang tak tahu bila reda-nya. maka buta rasa ini bawa diri jauh pada sempadan yang tak kenal makna segala. maka berpautan diri hanya pada logika yang bisa menafsir putaran maya. maka bersaksi aku kini dalam gelap yang harap lurus sinar itu bisa tunjuk haluan kembali...
30 Julai 2012
Cuma...
Posted by Ibnu Sobri at 1:00 PG 0 comments17 Julai 2012
Menulis
Posted by Ibnu Sobri at 11:29 PTG 0 comments17 Januari 2012
Puisi cinta siapa?.
Posted by Ibnu Sobri at 11:23 PTG 0 comments26 Disember 2011
buntu idea.
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 comments24 Disember 2011
kalimat.
Posted by Ibnu Sobri at 2:23 PGkerna kalam kita mengenal-Nya. dan pada erti kata maka kita cuba memahami dimana letaknya diri dalam jagat raya...
pada seteru usai kayu2 yang memegang buku2 aku yg kusam kesunyian. maka tatapan buku itu buat sedar yang aku kini jauh dari ruh yang pernah mengjenguh aku tatkala kukenal akan makna percaya. maka haru aku kini sendirian bukan kerna kurindu; bukan jua kerna kumegah; dan bukan kerna aku agung dirimu tinggi dari bisa yang sepatutnya. teguh yang itu tak pernah diri kecoh dari benar jalannya. maka ingin diri ini kecapi sekali lagi deruan rindu pada makna kata2 yang membangun jiwa. pada tulisan2 yang carik hati ini bisa pecah maksud betapa kerdil aku ini bernyawa. pada pentas2 caritan yang dengannya kembali aku menghampiri jalan taqwa...
"Betapa juapun kita harus percaya, bahawa kebaikan juga yang menang. Sebab asal-usul kejahatan kita bukan jahat, hanya baik semata. Kalau kejahatan pernah menang, hanyalah lantaran dorongan nafsu. Bila nafsu telah reda, kebaikan jualah yang kita junjung. Sebab itu hendaklah kita percaya penuh dengan Iman dan baik sangka pada Tuhan. Itulah Falsafah Hidup" ~ Buya HAMKA
maka sekali nafas sudah cukup tahu aku ini bakal hanyut dan diri bisa lingkup. namun harapan tak pernah sudah aku himpun pada-Nya. yang diri ini bisa kenal dan hati mula cahaya semula. yang pada selindung awan mendung menghimpit mentari, cahayanya tak pernah padam sedia untuk menerangi pada cukup nisbah masa tatapannya...
***
30 November 2011
jangka waktu.
Posted by Ibnu Sobri at 1:30 PTG 0 comments21 November 2011
bagaimana.
Posted by Ibnu Sobri at 1:53 PTG26 Oktober 2011
Sesekali enak pabila bercerita...
Posted by Ibnu Sobri at 3:45 PG 0 comments
bicara itu memang gamip bila tahu isi cerita,
tambah mesra pabila buah akal bergema pada
tambah tajam ilmu yang dicita. ooo... sesekali
merasai-nya buat kali kedua. supaya mekar dibawah
pohonan rimbun, yang dunia bersaksi aku jua
sempat ber-suka. dan bahwa pandangan melebar
hatta bicara pasti berbuah lagi fahaman mendalam
pada maksud kata yang bersuara:
"ooo... pada dunia yang dalam keadaan saksama,
andai runtuh, maka itu atas jiwa manusia. pada
sudut yang sukar aku melihat, maka saksiku akan
kejadian bukan pada keseluruhan-nya... "
+++
21 Oktober 2011
Rindu !!!
Posted by Ibnu Sobri at 9:24 PG 0 comments
mana beza kata dari benar rasa yang timbul dalam dada.
andaikata pergi datang kembali tidak sudah, tapi hanya
mimpi... ooo, derita yang datang dan pergi. pada sempadan,
kerutan itu gagal aku hayati... ooo rindu akan waktu
itu bisa semula buat kacau dalam jiwa. apakah berlalu,
dapat ku ulangi kembali perkara yang sama... kapan daku
bermula sebagaimana kali pertama???
26 September 2011
Buka-kah hatiku ini???
Posted by Ibnu Sobri at 9:05 PTG 0 commentsmencium bau tanah. hatta mengingat akan diri asal usul kejadian dan
destinasi kembali-ku. namun bisakah sampai aku pada makna tersirat
yang gapai aku pada awanan sepi itu tak menyebelahi, tapi bisa saja buat
aku ini berhimpit pada kesesatan yang melewati!!! maka dimana pergi,
telah ku bersua apa yang perlu. namun yakin dalam diri tidak cukup
buat diri ini bergerak justeru bergegas menuju kepada-Nya. di mana
silapnya, maka masih belum ku ketahuan. namun pada redah kembara
hidup ini, ku cuba pikul juga makna disebalik yang tak padat ku fahami.
mengapa!!! tidak cukupkah air yang mengalir itu buat saksi yang langkah
dalam payah itu, jalannya berliku-liku. sesalan ini takkan pergi. dan
akan terus bangun jua aku, membina jiwa yang padanya kenal erti
realiti pada sempadan ayu warna kehidupan abadi....
17 September 2011
Kembara Kehidupan
Posted by Ibnu Sobri at 9:13 PG 0 comments08 Jun 2011
Persimpangan
Posted by Ibnu Sobri at 11:15 PTG 0 commentsjalan itu perhati aku tak sudah. bersama kesesatan yang mengaburi pandangan mata. maka telah jelas yang ini bukan pilihan mudah. kerana kenangan tak bisa padam. dan kenal sudah aku akan kesal ini tak bersempadan. mana mungkin dengan mudah aku mampu laksanakan dengan saksama. maka di mana rayu hati ini terus menadah tangan dalam tangis meminta kembali. kerna kepulangan itu bukan suatu yang mudah dan temui pula aku akan persimpangan yang ragu2 aku akan bersih jalannya. maka dengan payah aku merenungi setiap genap kesilapan diri yang terampun. maka digamit dengan keresahan yang aku ini selamanya tak bisa lari darinya. maka tergamit erti kesedaran yang gelap akan laluannya. maka dimana dicari makna yang sembilu itu sudah pergi menjauh diri. mengapa aku terpisah pada sempadan masa yang tak dapat aku merentasinya. dan mengapa bermain minda dengan soalan yang sudah aku pasrah akan kehendak dengan jawapan yang pudar. dan mengapa perlu ku guris luka yang suatu ketika dahulu telah parah. mungkin kerna bermula kembali itu suatu yang payah. terbit pada embun pagi maka matahari yang mula menyinari sinarnya tidak dapat lagi kurasa. dan keindahan semakin melanjut pada usia dan semestinya telah lama pergi buat sekian masa. maka mana erti kebahagiaan andai kata kunanti. kerna pencarian itu tak pernah kucita. mungkin kerna pada perbatasan aku ini tidak arif pada erti dan makna pabila keduanya bermain di depan mata. kerna rasional itu telah menjadi hijab pada setiap laluan noktah pemikiran ini dicerna...
11 Oktober 2010
Mahligai malam.
Posted by Ibnu Sobri at 8:17 PG 0 commentsgembira buat si pencinta rembulan. dan kerlipan
bintang2 begitu asyik hingga lalai seketika diri
dengan khayalan. mesra bak erat itu sudah lama
gengam bersama akan ikatan itu dengan kuat. tapi
masakan yang hadir itu bisa kekal ia suci dalam
hati. jika air siramannya berhenti dari hujanan
kasih sayang. dan gersang ia akibat kering angin
kekalutan. bisa pergi berbuah kasar dengan tajam
duri2 di dahan. maka pokok itu bisa rimbun. tapi
rasa itu belum wujud. kerna apa yang dilihat itu
tidak dapat timbul dari air mata perasaan. dan
hasad yang menguasai terus angkuh ia dalam
ramai. kerna tidak sedar yang akhir diri keseorangan
tak berteman. tapi kerna cari mengerti yang ada
itu tidak wujud. hatta kerna bersama, maka takut
itu hancur. tapi demikian belum kukuh hujah
engkau berjiwa kejam. kerna kelak apa yang
dilaksana, soalan darinya akan berpanjangan.
selesai pada hujung sempadan yang tidak ketahuan
akan tamatnya. maka apakah derita itu mesti kita
pendam pada cubaan menguasai insan. kerna
seharus pelukan diri itu kuat memaling segala
yang merosak diri dari dalam. masakan, kerna
cahaya itu diraih belum sinarnya gemerlap pada
merah nyalaan hati kedukaan. oh enak terasa
andai diri kenal yang rasa itu wujud pada hikmah
yang tak mengerti aku akan maknanya. dan
kehendak melewati suatu suasana yang sendiri
cuba mengerti izzah yang ada dalam perjuangan.
masakan diraih, kerna cetek pengetahuan belum
dapat membentuk satu mahligai yang pesona
ia terbit dan nampak hingga luaran. kerna yang
dalam harus genggam erat, dan luhur ia pada
niat yang suci tertumpu pada suatu yang telah
diberita sejak dari awalnya. aku menunggu hadir
bicara yang bisa sejuk baraan hati keinsafaan. pada
sifat yang bisa dingin segala persoalan. dan agar
erat lagi petunjuk yang memayungi aku dengan
realiti kehidupan... oh agar bisa timbul terbit
suatu yang usaha sedaya aku bina?
***
09 Oktober 2010
Pelangi pagi
Posted by Ibnu Sobri at 2:59 PTG 0 commentstepersona. dan hati turut sama damai bersama
dengan riang cerianya melewati setiap ketika. oh
andai kata ini permata kilauan yang pernah gilap
tika suatu masa. maka sungguh telah lama ku
sirna pada kesesatan asbab jahil diri tak bisa faham
pada rumpunan yang dicita. oh pada kibaran dan
desik angin menuruti setiap celahan dedaunan. bisa
saja buat diri ini alpa. yang sedap terasa didalam
jiwa harus tidak buat diri lalai dengan keindahannya.
oh andai kata turutan rezeki itu harus milik pada
empunya. maka tak bisa dicarik walau oleh sekian
mata cuba memilikinya. oh andai tidak ketemu
emas yang bukan tadbir buat aku mengawalnya.
sudah pasti walau usaha sampai kering keringat. tak
bisa aku rasa akan manisnya walau sekelumit darinya
sangat aku cita. oh andai berkumpul insan timbul
musibah takkan sanggup ia beri derita. kerna semua
atas izin dariNya. oh berlalu pergi, maka masa itu
pantas putarannya. dan setiap saat berlalu ku pada
pinggiran kehidupan. kerna jemputan maut itu bisa
berlaku pada bila2 masa. dan harung aku ribut ini
pada sayup kegelapan dosa semalam. yang
berpenghujung tidak, maka apakah kalut darinya
buat diri bisa saja hilang haluan... maka maaf diraih
tak bisa aku faham akan tandanya. maka harap terus
cuba mekar dengan nyalaan yang semakin malap.
maka pada kicauan burung, ku cuba rawat suatu yang
tidak kelihatan. gemersik suara, dan sejuk angin yang
sesekali menyapa. buat ku gelisah mencari penawarnya...
03 Oktober 2010
Pada noktah yang tiada berlabuh pergi.
Posted by Ibnu Sobri at 4:03 PTG 0 commentspada kelibat yang sudah. bahwa andai ia berhenti.
maka kembali akan. itu janji yang pasti. kerna
sedar tidak, maka alunan ini kukabar-kan. buat
sesal itu agar ia terus bergolak ia di dalam. agar
gerun terbit dari hati yang bisa lihat. suatu yang
jelas tetapi kekadang tidak tercarik akal untuk
menerimanya. ooo pergi itu harungi yang pasti.
kerna pabila tamat bertemu dengan kelibat yang
berair. maka takut itu diserbu, dan yakin itu hadir.
kerna telah terlihat bahwa fatamorgana ini akan
berakhir. maka selama bernyawa. hanya khayalan
bermain pada tuntun indera. maka pabila realiti
mekar ia pada tepat akal yang saksama. pasti bisa
saja diri hilang upaya. lemah berdiri sendiri. runtuh
segala harapan. maka harap bekal ini dapat ku
tanam subur dalam jiwa. yang pada noktah yang
tiada berlabuh pergi. maka tetap ia tepat pada
waktunya....
***
21 September 2010
Jumpa tidak. Menanti tidak.
Posted by Ibnu Sobri at 6:16 PTG 0 commentspada milik empunya bukan hakikat tapi beri ia
tadbir. buat bawa ia pada jalan redha. yakni apa
yang diwahyu dan lafaz pada bibir yang dimulia.
maka, pada hujan yang berlalu maka kembali
subur dengan hidup kembali apa yang melambai.
oh, hanyut pada keindahan. walau buta ini telah
bawa diri berlalu jauh dari sempadan yang
semestinya. oh, anggun pada tempatnya. maka
tunduk ku akur yang insan itu hirup ia udara
buat mekar ia pada amal. dan teguh hati yang
satu itu, harus mengerti kenal apa yang semesti
-nya. agar tidak namun akan tetap dipertanggung-
jawabkan kelak. kerna itu suatu yang pasti. maka
pada ukiran ketaatan yang sedikit mengah.
maka ku berlalu yang langkah itu harus tidak
mengalah. kerana fitan selagi hidup, ia takkan
berakhir. maka harap iti harus teguh pada
kebenaran. dan hanyut tidak buat sekian kalinya,
ya walau pengetahuan terkedepan bukan
milik empunya. bahkan azam seharusnya pimpin
diri ke jalan yang diredhai. kerana buta mata itu
tidak bahkan teruk pabila hati itu tak bisa
lagi serap keindahan. kebenaran. oh pabila hati
telah buta, maka cahaya tak bisa berlalu bahkan
kekal ia sesat tak kenal sempadan. maka bermohon
agar teguh ini tak bisa goyah. kerna payah bisa
mengah, tapi susah tak bisa bawa diri mengalah.
kerna cahya harus lurus. kerna hanya empunya
mengerti apa itu salah.ya pabila ilmu telah
masuk ia buat tafsiran yang benar. Ooo tidak
pernah layu, malah pohonan segar kembali
selepas simbah ia dengan butiran rahmat melangit.
Ooo hati kenal tidak keindahan malah pabila
telah berlalu ia dengan noda. Ooo mengerti tidak
malah pengetahuan pasti hanya milik-Nya.
Yang Maha Mengetahui. Ooo bermohon agar
langkah terus diberi pedoman. agar makalah itu
tidak gersang pada gerun yang lalu ia hanya
sekejap. sepetang malah pendek dari itu. andai
kata jiwa itu mengerti tidak, tahu tidak. maka
puji itu terus lurus pada yang layak. kerna telah
serah diri ini yang berlaku itu telah tulis ia
pada kitab mulia. dan tiada yang berlaku malah
ibrah itu harus kutelan tanpa kenal pahitnya.
andai itu beri ia pelajaran untuk aku kenal
apa yang patut. maka tak pernah hati ini sesal
malah yang berlaku itu pasrah ku yang syukur
itu harus ku agungkan. Ooo jiwa yang dimuliakan.
tak pernah ku kenal maka harap itu terus tanam,
yang kelak ku bisa hirup seteguk dari mata air mu.
ya telaga yang telah dikhabarkan. dicipta oleh
Yang Maha Agung buat mereka yang ikut bawaan
mu. aku pada dua tangan yang bertemu, aku
gertak bibir ini memohon segala kebaikan. walau
mata tak bisa mentafsir segala yang betul itu
letak pembawaannya. kerna yang mengerti hanya
Dia. milik segalanya. dan diperkenankan apa
yang ku pinta. kerna yang bakal terjadi pasti
berlaku. dan apa yang ditetapkan itu kehendakNya.
Ooo agar dapat ku selimuti gersang hati ini
dengan selimut iman, dan agar diri sedar pada
yang tetap yang rimbun takkan bisa buat
pergi apa yang hakiki. kerna yang berubah hanya
apa yang milik ia pada insan. yang merah. yang
hidup. yang mentafsir. dan kelak hasil darinya-lah
yang merimbuan akan buat kenal insan makna
derita dan apa bahagia....!
***
30 Ogos 2010
Penawar
Posted by Ibnu Sobri at 7:37 PTG 0 commentssesal tidak dalam hayunan garapan hati
yang enggan diam. kerna telah lama ia lalu
pada daerah yang gelap. bisa saja buat hati
gundah, tenteram tidak tapi selamanya terus
berontak pada kehendak. yang harusnya ia
padam pada dingin air keimanan. maka sesal
ini tak ku tanggung malah buat kabar pada
sesiapa. tapi cukup bicara ini buat yang
mencari sinar. maka ingin ku katakan bahwa
kehidupan itu masih ada. walau tempat jijak
kita sekarang bukan madah sebenarnya. tapi
dengannya dapat faham kau gambaran apa
yang gagal capai ia oleh indera. petunjuk
yang kita daki selama ini. bahwa hadir hati
yang luhur ingin kembali itulah kuncinya.
yang roh itu tak bisa sejahtera hendaknya
andai kalut terus serabut. dan terus belenggu
ia dengan selabut hitam dosa noda yang
perlakukan. maka bagi diri ini yang masih
mencari, maka dapati ku tidak tapi yang benar
itu adalah tuju hanya segalanya hanya buat
Dia. moga pimpin Dia dan tunjuki apa itu jalan
petunjuk yang sebenarnya. jejak yang telah
lama kau serong. maka percayalah. dengan derita
itu maka hadirnya bersama kelapangan. walau
bisa buta tidak terlihat tapi dalam sedar tidak
bakal kau garapinya. sedarilah. ku pun dengan
susah payah cuba mentafsirnya. walau bukan
layak diri ini pada kelebihan. andai salah itu pada
sedar dan telah menyaksi ku sendiri makna
kebenaran itu. tapi harap itu harus ada, bahwa
itu merupakan sifat-Nya yang tak layak kita
sisih dan pandang mudah. kerna kebesaran hanya
buat Dia. layak Dia pada segala yang telah termaktub
pada kalam. moga harap itu akan ku selalu
dalam petunjuk, dan tidak akhir hayat selain
dalam pelukan iman yang payah ia biar jadi debu,
dan moga penawar itu capai ku pada hikmah makna
nya. ya sesekali, semua dengan izin dari-Nya.
***
04 Ogos 2010
Kesedaran
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 commentsmaka tika itu selidik cuba mengorek pada lubang
rahsia andai kata ia menjelma. namun hampa
itu berjumpa ia pada gantinya. masakan. bertemu
tidak keruan tapi hikmah itu pasti cuba ku selongkar.
tapi bisa suatu yang bukan madah pengetahuan itu
ia tanam dalam benam hati yang cuba mendalami
erti kehidupan, dapat ia sergah mengerti maksud
pabila ia menegaskan rasa. tetap pendirian itu ku
bertemu ia walau sukar akibat kekadang goyongan
yang bermain pada minda, mudah ia memaling dari
sudut yang benar akan ia. tidak sesekali namun pabila
di mengerti maka mengalir basah mata tak berkesudah.
kerna sedar pada kesedaran maka telah lama kita
terpadaya oleh nyata khayalan yang bermain depan mata.
dan turuti kita kehendak ia pada elok saksi kita yang serong
akan pembawaannya, ya semestinya dalam sedar pada
jelek ia kelihatan dan buruk ia semestinya bukan hati kita
sirna menjauh akan ia selamanya. masakan. kerna andai
ini zamannya maka laluan ini pasti akan bawa juga kita
hendaknya. tiada dapat memaling kerna telah takdir-Nya.
tapi jika itu khabar ia pada selok sejarah yang beralun
madah telah sekian lama. maka sudah harap kita pada janji
yang dilafaz sudah pasti akan berlakunya. tapi pada janji buat
mereka yang menang sudah pasti mahar yang dibayar
hendaknya mahal dan perlu kerah segala tenaga. tapi tak bisa
juga bayar andai kata hati yang diterjemah mampir ia pada
saksi yang bergelimpangan, lurus tidak malah serong perbuatan
bukan pada semegah zahirnya. tontonan semata maka sedar
hati tidak pada perbuatan diperlihat. masakan. maka sedar
yang berpanjangan sudah tentu ketahui ku tidak apa kerperluan
nya. kerna andai ini bekalan yang pernah bawa kita pada puncak
maka hendaknya semua itu hanya atas izin-Nya. kerna
tak ketahui tapi cuba memahami yang kembara yang terpencil.
maka jawapan sebenar sudah tentu bertemu tidak malah
pabila selesai kita dikumpulkan disana...
***
02 Ogos 2010
Mencari
Posted by Ibnu Sobri at 12:24 PG 0 commentsmaka pilih itu pada hati yang terikat, tapi itu semua
mungkin bisa putus andai kata rapuh talinya dan andai
simpulan itu kuat tidak menahan daya yang datang cuba
memutusnya dari sudut yang pelbagai. masakan, kerna
sedar diri laluan ini bisa dayung ia pada mengah tangan
yang tak larat sanggup lagi melihat satu demi satu pergi
maka hati yang terluka itu tak bisa dan mungkin sukar ia
pulih sebagaimana asalnya. maka diri cuba buat kali ini
memberi peluang, bukan pada sesiapa tapi malah buat
diri untuk menerima keburukan malah mungkin itu bukan
ia sebenarnya tapi cuma malah tafsir sendiri. maka pada
keistimewaan ku menyaksikan sedar tidak insan cuba
memusnah dirinya pada akibat perbuatan yang lihat
ia satu yang sempurna. masakan berlaku. kerna pabila
rasa itu dalam, tak perlu ia pada lemah tolong si laknat
durjana mentafsirnya. apatah mempamerkan segalanya
umpama sudah terjurai hijab pada maklum yang tak
punyai kuasa ia apa yang ghaib. maka selindung ku cuba
pada rasa yang semestinya melihat apa yang mungkin
bukan madah ia dari pengalaman yang ditimba, tapi
mungkin kiasan permainan juga hendaknya. kerana pabila
mentafsir maka hadap kita pada sentuhan yang mungkin
buat yang salah rasanya benar. ya, apa akan daya pabila
kehendak itu lemah dan senang kuasai ia oleh
durjana yang telah bermain selamanya dengan bayangan.
tapi hendaknya ku menyaksi. bahwa yang miliki mereka
upaya yang sebenar dalam tetap yang tak bersempadan
dengan petunjuk Yang Kuasa. maka taklim itu mereka
pada hakikat sebenar, dan bisa lihat segala yang tersirat
dengan izin-Nya. pada usaha yang lemah tak mungkin bisa
diri peroleh apatah itu bukan nurani yang sejati. kerna
berbakti kita hanya pada-Nya. dan balasan itu milik-Nya
segala, Yang Maha Adil dalam pembahagian kurnia-Nya.
maka dalam tadahan yang masih hingar pada wujudnya
kehendak yang batil, maka ku turutkan ucapan yang agar
dengannya tetap aku pada jalan yang lurus ini hingga akhirnya.
***





