Aku mendengar, lalu melihat aku ke suatu sudut, pada bibit2 yang teratur indah. Maka terkapai akal ini berterbangan tinggi laju merentas awanan syahdu. Maka dimana tangisan kuyup itu aku pikul pada luahan yg cukup menyentap hati ini yang mengeluh. Bahwa janji yang Kau sampaikan itu benar. Dan lurus perhitungan itu tak pernah ku sangsi akan benar bicaranya. Maka aku kini rentasi dimensi yang bisa buat akal bergerak, gemersik melewati tandus umur yang kusat pada amal2 yang bernyawa. Bahwa tepat nilaian pada khabaran pasti, bisa buat diri hanyut. Lemah pada kejaran yang tak pernah habis diri ini sempurnakan. Yang akan terus selalu diri ini rindu akan tatapannya; pada jiwa yang mulai tersentuh. Dan yang aku masih cuba menafsiri makna kasih itu, yang sering jiwa ini lalai pada pemahamannya. Bahwa kata2-Mu itu sungguh lekat ia pada diri yang sendu. Yang kelibat aku ini masih tiada dapat hadir ia tanpa dikelilingi noda. Maka penyaksian cinta itu kusambut, harus megah ia pada amal yang melewati taman2 sentosa. Namun, mengheret daku pada persimpangan... jadi kemana??? itulah yang sepatutnya?.
Read more
Tentang diri
- Ibnu Sobri
- Kedah, Malaysia
- Ku pengembara. Terokai madah dalam diam mulut berbicara. Menyelongkar rahsia dengan lemah deriaku. Menyelami hati seorang perindu. Sunyi di kala ada, girang di waktu sepi. Pantas mataku memerhati maka hatiku menyaksi, kelibat peristiwa dan rentetannya. Maka jelajah ini pasti tak sudah, sampai pasti di depanku titik noktahnya. Dan ketika itu langkah dipersoal dan gerun hati andai tak terjawab segala persoalan....
Blog
Memaparkan catatan dengan label Keinsafan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Keinsafan. Papar semua catatan
17 Januari 2012
26 Disember 2011
buntu idea.
Posted by Ibnu Sobri at 2:21 PG 0 commentspada redup awanan, maka tadah air itu bagai butiran mutiara yang jatuh menusuk perut bumi. maka hidup subur kembali segala yang bertasbih tiada henti. dan indahnya pada kehijauan yang bermain di depan mata, cukup buat diri segar dalam lalai dari kacau fikiran. maka berterusan aku dikucup bayu yang entah kemana dingin itu tiba buat bangkit kembali jiwa. oh! mesra sebegini seakan membuat diri lupa pada takdiran yang aturan ini begitu sempurna. buat tayangan lemah insan dalam cakerawala... buat bingit semua itu dalam tadahan doa! semoga berita gembira itu khabaran-nya pasti. yang pergi menimpa, maka kita semua bakal semua berjumpa. bertemu pada paksi yang janji, itu benar pada lukisan alam yang telah menyerah segalanya... maka makalah ini luasnya buat diri rasa megah dalam selimut hamba. yang aku ini telah bersaksi, maka aturan itu cuba ku fahami dari sudut jiwa dan hati yang berasa gundah. bahwa sekian akan ketemu harap dan takut yang menyerpa...
Read more
24 Disember 2011
kalimat.
Posted by Ibnu Sobri at 2:23 PGkerna kalam kita mengenal-Nya. dan pada erti kata maka kita cuba memahami dimana letaknya diri dalam jagat raya...
pada seteru usai kayu2 yang memegang buku2 aku yg kusam kesunyian. maka tatapan buku itu buat sedar yang aku kini jauh dari ruh yang pernah mengjenguh aku tatkala kukenal akan makna percaya. maka haru aku kini sendirian bukan kerna kurindu; bukan jua kerna kumegah; dan bukan kerna aku agung dirimu tinggi dari bisa yang sepatutnya. teguh yang itu tak pernah diri kecoh dari benar jalannya. maka ingin diri ini kecapi sekali lagi deruan rindu pada makna kata2 yang membangun jiwa. pada tulisan2 yang carik hati ini bisa pecah maksud betapa kerdil aku ini bernyawa. pada pentas2 caritan yang dengannya kembali aku menghampiri jalan taqwa...
"Betapa juapun kita harus percaya, bahawa kebaikan juga yang menang. Sebab asal-usul kejahatan kita bukan jahat, hanya baik semata. Kalau kejahatan pernah menang, hanyalah lantaran dorongan nafsu. Bila nafsu telah reda, kebaikan jualah yang kita junjung. Sebab itu hendaklah kita percaya penuh dengan Iman dan baik sangka pada Tuhan. Itulah Falsafah Hidup" ~ Buya HAMKA
maka sekali nafas sudah cukup tahu aku ini bakal hanyut dan diri bisa lingkup. namun harapan tak pernah sudah aku himpun pada-Nya. yang diri ini bisa kenal dan hati mula cahaya semula. yang pada selindung awan mendung menghimpit mentari, cahayanya tak pernah padam sedia untuk menerangi pada cukup nisbah masa tatapannya...
***
06 Disember 2011
kata2.
Posted by Ibnu Sobri at 11:30 PTG 0 commentsajar daku yang kata2 permainan jiwa. terkadang layu pada selok lembut ia menyapa. pada detik berbeda, dapat lurus suatu yang bengkok, hal-nya semata kerna kata. jadi ke-mana harus budi ini tadahan ia pada maksud yang sebenar, maka telah daku pasrah ia agar selalu diri terpimpin. namun, ternyata kekadang sukar nyata pimpin akan diri pada laluan sepatutnya. terkadang kurang daya, maka lemah kaku diri pada suatu sudut. maka hilang punca buat diri menadah, maka hangus diri pada hangat hati membara. ooo... ku mengimpi akan kata yang sejuk hati pabila deria bersuara. suatu janji. bahwa yang akan berlaku maka jelas masa akan peristiwa-nya. pada kalam yang bernyawa pada hati2 yang tadah mereka harapan... bahwa ternyata faham ia akan jiwa yang telah sinari dengan kebenaran. namun, itu hanya seketika. maka menunggu daku tiba kembali jajahan yang agung tadbir sebagaimana rentetan yang lalu. bahwa dengan-nya, maka bermegah kata2 dengan kalam yang kembali jadi ia peta buat mengisi haluan yang mengisi...
***
30 November 2011
jangka waktu.
Posted by Ibnu Sobri at 1:30 PTG 0 comments
ketemu aku bahawa usia itu suatu yang jarak panjang ia tidak pernah siapa ketahui. dan melangkah aku pada hari2 berlalu umpama detik2 yang semestinya diri hayati, tak pernah bersuara dan tidak terlihat diri lagi akan apa dapat ia jana dalam jiwa. ooo... semestinya rasa ini pernah pergi, kehilangan arah dalam kabus yang menggelap hati yang gundah. kemana!... ku mencari arah. maka jalan kembali itu, kekadang jemu aku pada laluannya yang panjang... ooo, jalan pulang semestinya bertemu semua insan pada penghujung yang sama. tapi berbeda segalanya pada turut cara mereka memikulnya. ooo... mahu apakah lagi aku??? apakah yang selama ini diri pinta. semestinya pencarian takkan berakhir....... pada waktu maka lahir kita ke pentas dunia. pada jangka usia kita bersama. maka masa menentukan detik pertemuan hatta perpisahan.
15 Oktober 2011
Sesekali terasa diri sirna.
Posted by Ibnu Sobri at 12:58 PTG 0 commentspabila basahan kitab suci itu bukan lagi dalam dakapan.
maka berhayun diri pada suatu hakikat yang mengerti
tidak akan makna alam yang memayungi. terdetik
sesekali, agar harum bau itu dapat kucita kembali.
bersama-nya mampir kembali jernihan hikmah dan
dalam pengertian pada erti yang tulus. ooo...mengapa
diri kini terasa kejauhan, pada keenakan yang
melupakan. bukankah, kelak masa memanggil pada
waktu yg tidak diri ketahuan. hatta masa telah tiada
untuk diri berubah....
ooo....damba-ku pada waktu bersama. pada ketika
diri sedar dan basah lidah ini mengingati. telah
keraskah hati-ku??? mengapa tiada lagi rasa! dan
fikiran kosong dari pemahaman yang bisa buat
bangkit diri pada kelalaian!!! dan gerun daku pada
kehinaan!!!
menagih daku mengharap yang masa itu masih ada
buat diri kembali. dan keruh perjalanan beransur pergi,
lalu datang sinaran buat suluh kembara berbaki....
Read more
maka berhayun diri pada suatu hakikat yang mengerti
tidak akan makna alam yang memayungi. terdetik
sesekali, agar harum bau itu dapat kucita kembali.
bersama-nya mampir kembali jernihan hikmah dan
dalam pengertian pada erti yang tulus. ooo...mengapa
diri kini terasa kejauhan, pada keenakan yang
melupakan. bukankah, kelak masa memanggil pada
waktu yg tidak diri ketahuan. hatta masa telah tiada
untuk diri berubah....
ooo....damba-ku pada waktu bersama. pada ketika
diri sedar dan basah lidah ini mengingati. telah
keraskah hati-ku??? mengapa tiada lagi rasa! dan
fikiran kosong dari pemahaman yang bisa buat
bangkit diri pada kelalaian!!! dan gerun daku pada
kehinaan!!!
menagih daku mengharap yang masa itu masih ada
buat diri kembali. dan keruh perjalanan beransur pergi,
lalu datang sinaran buat suluh kembara berbaki....
02 Oktober 2010
Pujangga di tepian.
Posted by Ibnu Sobri at 5:22 PTG 0 commentsoh, berlabuh pada tepian yang tak mengerti. maka
pada kekok tampil diri bawa usaha. bahwa yang
berlalu bisa pergi, tapi pada hujung benak hati ini
calar itu gagal ku ubati. maka pada rintihan ku
menyepi bahwa kelak akan damai semua ini. maka
pada jernih air yang mengalir, bisa diketuk suatu
yang keras ia pada sifatnya. maka selagi hirup udara
ini, harap diri itu terus ku kata. dalam diam bahwa
supaya masa itu bisa bawa jiwa pada sempadan
yang ku bisa gapai. dan pada kecelaruam calaran
yang masih berdarah, henti ia pada tamat masanya
berhenti. kerana tidak dipinta, andai terus hujanan,
kisahku bersama fitan takkan sudah. kerna kehidupan
ini sendiri suatu fitan. ooo... kesilapan yang lalu
harap takkan berulang. tapi masakan. kerna lemah
kehendak dan kurang daya. dan ku insan mengerti
tidak. masakan berlalu maka noda itu terus bawa
diri mengauli kegelapan. ooo, sentak hati yang takkan
ketakutan. maka kelak keras raja diri itu, cuba
sedaya ku elak. kerna andai kali ini gagal kutepis.
maka kelak bisa saja diri runtuh, punah pada harapan
semalam. ooo, aku yang bersaksi, maka enak itu
cuba ku selidiki. kerna yang pasti tetap berlaku. dan
yang segala yang suram tak bisa terjadi andaikata
tidak tulis ia pada kalam. ooo... diriku yang hina.
***
Read more
pada kekok tampil diri bawa usaha. bahwa yang
berlalu bisa pergi, tapi pada hujung benak hati ini
calar itu gagal ku ubati. maka pada rintihan ku
menyepi bahwa kelak akan damai semua ini. maka
pada jernih air yang mengalir, bisa diketuk suatu
yang keras ia pada sifatnya. maka selagi hirup udara
ini, harap diri itu terus ku kata. dalam diam bahwa
supaya masa itu bisa bawa jiwa pada sempadan
yang ku bisa gapai. dan pada kecelaruam calaran
yang masih berdarah, henti ia pada tamat masanya
berhenti. kerana tidak dipinta, andai terus hujanan,
kisahku bersama fitan takkan sudah. kerna kehidupan
ini sendiri suatu fitan. ooo... kesilapan yang lalu
harap takkan berulang. tapi masakan. kerna lemah
kehendak dan kurang daya. dan ku insan mengerti
tidak. masakan berlalu maka noda itu terus bawa
diri mengauli kegelapan. ooo, sentak hati yang takkan
ketakutan. maka kelak keras raja diri itu, cuba
sedaya ku elak. kerna andai kali ini gagal kutepis.
maka kelak bisa saja diri runtuh, punah pada harapan
semalam. ooo, aku yang bersaksi, maka enak itu
cuba ku selidiki. kerna yang pasti tetap berlaku. dan
yang segala yang suram tak bisa terjadi andaikata
tidak tulis ia pada kalam. ooo... diriku yang hina.
***
26 September 2010
Berlabuh pergi...
Posted by Ibnu Sobri at 6:44 PTG 0 comments
maka lambunan ini sampai ke penghujungnya.
andai dinanti, bisa pergi. dan andai dicari, pergi
dia menghilangkan diri. maka dimana tampak
sudah enak. maka ini bukan tempatnya. sesekali
mesra rasa dingin dalam hati. tidak bisa buat kau
rasa cukup dengannya. umpama air masin, ditelan
lagi datang dahaganya. maka berlabuh lagi, maka
ini suratannya. kerna tidak layak, maka dalam
kerendahan ku perlu bergerak sama. sebagaimana
awan lemah gemalai sentak gerak dengan gemersik
suara si angin yang layu... oh enak diperhati... kekok
pula apabila bersaksi.
maka dalam madah akan ku berlabuh lagi. dimana
labuhan kali ini bisa bawa ku kemari. tidak kutahu
dimana jadinya. kerna layar ini bisa hancur di
tengah jalan. masakan ribut pula berhempas, lalu
tenggelamkan segalanya. jadi apabila layaran disoal
sama ia dengan tempat berlabuh. maka jutaan hikmah
yang bisa tumbuh akal dengan saksama itu yang kupinta.
Oh... sesekali hatiku gerun, tenang tidak fikiran bermain
dengan buih2 yang pergi. kerna tempat kucari tak pernah
kutemui. dan sempit hati terasa tak pernah kumaklumi.
kerna andai ditelan sahaja tidak cukup. kerna gapai
perlu kau sisanya. agar segalanya berbuah bahagia...
ooo pada ufuk ku perhatikan yang disana masih ada
harapan. pada merah nyalaan kecintaan maka sang
mentari pergi. yang gemerlap dengn suci cahayanya
maka sang purnama bersuara... oh megah kepada
kepada mereka yang tunduk! penyaksian dalam hati yang
tak sudah. hirup udara dinanti, maka syukur bertasbih
tak kenal sempadannya. dan darjat diraih. tinggi
melangit dari apa yang dicita. maka diri kini cuba belajar...
mengenal madah dalam dakapan hati yang sengsara.
bahawa segala bakal dipertanggungjawabkan!...
***
16 September 2010
Apa yang hilang hendaknya berganti
Posted by Ibnu Sobri at 9:48 PTG 0 commentstatkala madah itu hujan ia dengan bicara
tak sudah. maka mengerti tidak. andaikata
benar bicara pada jelasnya pun, maka tegas
ini bakal disalah ertikan. maka bagaimana?
maka pada tebusan yang sudah, tidak tahu
bahkan bukan kumiliki pengetahuan itu.
tapi pada selekoh panjang perjalanan maka
tengok aku harus tunduk. agar tak menimpa
kemalangan. bahkan yang terjadi bakal berlaku.
dan apa kehendakNya bakal terjadi. maka
kayuh itu harus mengah hanya untuk mendapat
akan Dia. maka yang memberi, yang menerima
pada zahir tidak nampak aliran disebalik
tabir ghaib. maka syukur yang berdendangan
harus mesra pada kalbu. agar tenang datang
menerjah. dan gemerlap ia dengan cahaya
akan sentiasa sinar ia pada haluan. maka
apa yang hilang hendaknya berganti. dan andai
sendu mengenang tidak terdaya membawa
datang kembali. dan sungguh benar yang hilang
itu pada yang haq. bukan kehendak insan yang
lupa lemah mentafsir nilai harganya. maka redha
itu harus. syukur itu harus. dan gerun itu
perlu andai telah melampau diri dari batasnya
yang pasti. agar moga kejahilan ini tidak meraih
azab selayaknya diri terus mohon agar ampun
diraih sebagai balasnya. dan pada kerendahan,
maka pasrah itu ku hayun semoga Dia memberi
balik apa yang hilang. dan layak itu yang berganti
lebih baik dari yang hilang. kerna itu janjiNya.
namun andai layak diri terima. tapi sudah suntuk
jiwa ini merana pada kejahatan yang dilakukan
oleh tangan. sedar tidak tapi sendiri yang punya
angkara. hingga gelap itu gagal kutepis. maka belenggu
ini masih dapat tidak kulepaskan. maka harap
bermain pada takut yang meluap. tentang bahana
yang menerpa. bila tentu maka bakal terjadi akannya.
maka, supaya diri tetap teguh pada penyaksian.
dan moga dipermudah segala urusan. dan tidak
terbeban dengan suatu yang tiada daya diri mengharung
akan kabutnya, buasnya. semoga sabar dijadi
perisai. dan pelindung hanya pada diri yang berserah.
dan apa yang dimulut itu sesuai dengan apa yang
dihati. dan moga diri terlepas dari dakwaan pada
hari yang membangkit. dari segala permasalahan.
dari segala tuduhan. kerna yang benar itu datang hanya
dari Tuhan.
***
Read more
tak sudah. maka mengerti tidak. andaikata
benar bicara pada jelasnya pun, maka tegas
ini bakal disalah ertikan. maka bagaimana?
maka pada tebusan yang sudah, tidak tahu
bahkan bukan kumiliki pengetahuan itu.
tapi pada selekoh panjang perjalanan maka
tengok aku harus tunduk. agar tak menimpa
kemalangan. bahkan yang terjadi bakal berlaku.
dan apa kehendakNya bakal terjadi. maka
kayuh itu harus mengah hanya untuk mendapat
akan Dia. maka yang memberi, yang menerima
pada zahir tidak nampak aliran disebalik
tabir ghaib. maka syukur yang berdendangan
harus mesra pada kalbu. agar tenang datang
menerjah. dan gemerlap ia dengan cahaya
akan sentiasa sinar ia pada haluan. maka
apa yang hilang hendaknya berganti. dan andai
sendu mengenang tidak terdaya membawa
datang kembali. dan sungguh benar yang hilang
itu pada yang haq. bukan kehendak insan yang
lupa lemah mentafsir nilai harganya. maka redha
itu harus. syukur itu harus. dan gerun itu
perlu andai telah melampau diri dari batasnya
yang pasti. agar moga kejahilan ini tidak meraih
azab selayaknya diri terus mohon agar ampun
diraih sebagai balasnya. dan pada kerendahan,
maka pasrah itu ku hayun semoga Dia memberi
balik apa yang hilang. dan layak itu yang berganti
lebih baik dari yang hilang. kerna itu janjiNya.
namun andai layak diri terima. tapi sudah suntuk
jiwa ini merana pada kejahatan yang dilakukan
oleh tangan. sedar tidak tapi sendiri yang punya
angkara. hingga gelap itu gagal kutepis. maka belenggu
ini masih dapat tidak kulepaskan. maka harap
bermain pada takut yang meluap. tentang bahana
yang menerpa. bila tentu maka bakal terjadi akannya.
maka, supaya diri tetap teguh pada penyaksian.
dan moga dipermudah segala urusan. dan tidak
terbeban dengan suatu yang tiada daya diri mengharung
akan kabutnya, buasnya. semoga sabar dijadi
perisai. dan pelindung hanya pada diri yang berserah.
dan apa yang dimulut itu sesuai dengan apa yang
dihati. dan moga diri terlepas dari dakwaan pada
hari yang membangkit. dari segala permasalahan.
dari segala tuduhan. kerna yang benar itu datang hanya
dari Tuhan.
***
10 September 2010
Kekadang terpaksa melepas kau pergi
Posted by Ibnu Sobri at 5:17 PG 0 commentsandai kata garapan bukan kayalan. dan
bicara semestinya merentas semesta alam.
maka di situ maka buah bercambah. manis
rasanya dalam ikatan. andai kata pertemuan
itu dinanti perpisahan. dan bertemu berpisah
hanya kerna Tuhan. maka sekian kali, dalam
pilu hati kehilangan teman. maka akan ku
nanti saat tiba hadirmu kembali. kerna
ucapan tak bisa merungkap. dan basahan
linangan tak mampu mengubati jerih derita.
maka sudah semesti bahwa perpisahan itu
patut dimaklumi. reda yang andai kata ini
kehendak, maka dalam sendu doa takkan
terhenti lafaz ucapan enak bersua kembali.
kerna telah lama andai keras hati ini gagal
diubati. dan kalut yang menyerbu sudah
tentu buat diri hilang arah tujuan. tapi
bersama rahmat melangit itu datang kau
hadir bawa pemahaman. penawar bagi
perit susah yang ku sendiri pendam. maka
dengannya maka harap langkah kelak
bakal bersatu pada satu deruan. bersama
melangkah dengannya sedar kembali
bisik puji2an. yang menerpa kian kali,
maka mereka kenal tidak makna lelah.
maka ku yang mengikuti petunjuk ini
harus pasrah namun diri harus gagah
dalam usaha. kerna percaya itu yang
terkehadapan. bahwa rasa ingin bertemu
itu sudah jadi diri terpaksa melepas
kau pergi kali ini... dan agar bersama
rentesan masa maka Dia menerima
segala perlakuan, segala perbuatan,
segala permintaan. Dan padaNya-lah
tuju segala pengharapan....
***
Read more
bicara semestinya merentas semesta alam.
maka di situ maka buah bercambah. manis
rasanya dalam ikatan. andai kata pertemuan
itu dinanti perpisahan. dan bertemu berpisah
hanya kerna Tuhan. maka sekian kali, dalam
pilu hati kehilangan teman. maka akan ku
nanti saat tiba hadirmu kembali. kerna
ucapan tak bisa merungkap. dan basahan
linangan tak mampu mengubati jerih derita.
maka sudah semesti bahwa perpisahan itu
patut dimaklumi. reda yang andai kata ini
kehendak, maka dalam sendu doa takkan
terhenti lafaz ucapan enak bersua kembali.
kerna telah lama andai keras hati ini gagal
diubati. dan kalut yang menyerbu sudah
tentu buat diri hilang arah tujuan. tapi
bersama rahmat melangit itu datang kau
hadir bawa pemahaman. penawar bagi
perit susah yang ku sendiri pendam. maka
dengannya maka harap langkah kelak
bakal bersatu pada satu deruan. bersama
melangkah dengannya sedar kembali
bisik puji2an. yang menerpa kian kali,
maka mereka kenal tidak makna lelah.
maka ku yang mengikuti petunjuk ini
harus pasrah namun diri harus gagah
dalam usaha. kerna percaya itu yang
terkehadapan. bahwa rasa ingin bertemu
itu sudah jadi diri terpaksa melepas
kau pergi kali ini... dan agar bersama
rentesan masa maka Dia menerima
segala perlakuan, segala perbuatan,
segala permintaan. Dan padaNya-lah
tuju segala pengharapan....
***
08 September 2010
Andai kutahu
Posted by Ibnu Sobri at 5:07 PTG 0 commentsmaka selayaknya ghaib itu bukan madah ciptaan.
pada sayup ucapan maka gerun rasa itu harus
pergi ia dengan lambungan harapan. kerna yang
pasti itu telah sekian khabar lamanya. dan berlaku
sudah apa yang terjadi. sekian yang dijanji. maka
dengan buah akal yang saksama. mengerti kita yang
bakal sambut kita segala yang dilafazkan. oleh insan
mulia, semoga selawat dan salam terus berkumandang.
dari lidah insan yang tagih akan agar dahaga kelak
bisa ditepis dengan air dari telaga yang dinanti. ya,
tidak hanya tapi khas buat ummati, ummati, ummati.
maka pada diri yang telah sekian tenggelam. tidak sedar
diri dalam lambungan kelemasan. dan mati itu selalu
dalam lingkungan. maka pada redup awan yang berlapis.
andai kata sedar diri pada garis cahaya yang menerangi.
sudah cukup untuk buat diri sedar. jikalau tidak, pada
detik itu maka peroleh masa buat bertakafur seketika.
bahwa jelajah itu terus berlalu, pada peristiwa2 yang
telah buat ia sangkut gelita. hingga kelam kini hati
pada pemahaman yang seharusnya buat mereka
bernama insan.maka pada celahan kabut ini, sukar untuk
nampak jalannya. andai kata terus, maka harapan itu
sekian tak pernah padam. dan menyerah andai kata
dengannya. maka petunjuk dapat dicerna. dan sekembalinya,
maka ikhlas itu harus ku hayun sehingga ke penghujung.
andai dengannya dapat diterima segala perlakuan amal.
maka itu sudah cukup membuat titis ini terus basah
pada penyaksian. bahawasanya, layak tidak tapi mana
mungkin diri kufur pada hakikat. bahwa kasihNya meluas
tanpa kenal sempadan. dan bahwa yakin tidak, tapi
jungjung mesti pada yang benar. semoga beroleh kemenangan.
dan ianya bukan yang dapat ditafsir pada takbir ini.
semoga yakin itu bawa kepada diri apa yang dikehendaki.
bahwa semalam berlalu buat diri mentafsir. peranan yang
telah sekian lama ia saksi lakukan. dan supaya betul kembali
apa yang serong. kerna kemudahan itu hanya pada yang senang.
merayu tidak. tapi harap tadahan itu takkan berhenti buat
sekian masa. selamat pergi. dan andai kata berjanji, sudah
pasti bertemu itu suatu yang mesti. tapi kerna hirup tidak
malah nyawa bukan kuasa empunya. maka doa kupohon,
agar masa ketika bersama bakal harungi lagi dengannya setelah
sekian masa. ku menanti....
***
Read more
pada sayup ucapan maka gerun rasa itu harus
pergi ia dengan lambungan harapan. kerna yang
pasti itu telah sekian khabar lamanya. dan berlaku
sudah apa yang terjadi. sekian yang dijanji. maka
dengan buah akal yang saksama. mengerti kita yang
bakal sambut kita segala yang dilafazkan. oleh insan
mulia, semoga selawat dan salam terus berkumandang.
dari lidah insan yang tagih akan agar dahaga kelak
bisa ditepis dengan air dari telaga yang dinanti. ya,
tidak hanya tapi khas buat ummati, ummati, ummati.
maka pada diri yang telah sekian tenggelam. tidak sedar
diri dalam lambungan kelemasan. dan mati itu selalu
dalam lingkungan. maka pada redup awan yang berlapis.
andai kata sedar diri pada garis cahaya yang menerangi.
sudah cukup untuk buat diri sedar. jikalau tidak, pada
detik itu maka peroleh masa buat bertakafur seketika.
bahwa jelajah itu terus berlalu, pada peristiwa2 yang
telah buat ia sangkut gelita. hingga kelam kini hati
pada pemahaman yang seharusnya buat mereka
bernama insan.maka pada celahan kabut ini, sukar untuk
nampak jalannya. andai kata terus, maka harapan itu
sekian tak pernah padam. dan menyerah andai kata
dengannya. maka petunjuk dapat dicerna. dan sekembalinya,
maka ikhlas itu harus ku hayun sehingga ke penghujung.
andai dengannya dapat diterima segala perlakuan amal.
maka itu sudah cukup membuat titis ini terus basah
pada penyaksian. bahawasanya, layak tidak tapi mana
mungkin diri kufur pada hakikat. bahwa kasihNya meluas
tanpa kenal sempadan. dan bahwa yakin tidak, tapi
jungjung mesti pada yang benar. semoga beroleh kemenangan.
dan ianya bukan yang dapat ditafsir pada takbir ini.
semoga yakin itu bawa kepada diri apa yang dikehendaki.
bahwa semalam berlalu buat diri mentafsir. peranan yang
telah sekian lama ia saksi lakukan. dan supaya betul kembali
apa yang serong. kerna kemudahan itu hanya pada yang senang.
merayu tidak. tapi harap tadahan itu takkan berhenti buat
sekian masa. selamat pergi. dan andai kata berjanji, sudah
pasti bertemu itu suatu yang mesti. tapi kerna hirup tidak
malah nyawa bukan kuasa empunya. maka doa kupohon,
agar masa ketika bersama bakal harungi lagi dengannya setelah
sekian masa. ku menanti....
***
06 September 2010
Pelepasan
Posted by Ibnu Sobri at 8:15 PTG 0 commentssungguh aku berlepas diri dari kejahatan dan
pada kelencongan yang telah berlaku. dan turut
ku berlepas dari kezaliman terhadap diri. bahwa
bersaksi Yang Satu itu patut ku junjung utuh.
dan sekali tidak mencari yang sama dengan-Nya.
wahai insan yang bersaksi. telah ada kau dan aku
diberi nikmat yang tidak empunya mereka yang
lebih layak. andai kata amal itu yang ditimbang tara.
dan sekali ini ku bersaksi dan redha tidak sama
sekali pada tali temali bersimpul yang ditiup.
dan pada sesat mereka pada kehendak sendiri.
zalim terhadapnya diri dan pada mereka
yang mengekorinya. bahwa pelepasan ini selanyak
nya kelak ingat diri. suatu yang berlaku pada
yang terkedepan. dan agar dengan bicara ini
saksi pada mereka yang bertasbih. agar peluk ku
pada satu kebenaran yang ku pegang utuh.
dan agar cahaya itu bakal menyinari disepanjang
perjalanan. hingga buntu ia pada tatapan masa.
maka pada penghujung yang berkah, berlalu ku
angkat tadahan merayu. moga terus dilindungi,
moga agar terus hati bersimpati, agar terus
tagih nikmat itu diberi dan sesal diri pada
kesalahan diri. dan padanya harapan itu ku
letak. bahwa apa selayaknya berlaku pasti terjadi.
agar ku dipimpin ke jalan yang selamat. dan
agar dengannya dapat ku bawa umpanya
hati yang lembut untuk turut sama meraih
nikmat-Nya. Moga diperkenan... moga mendapat
yang sebaik2-Nya. dan Dia jugalah kembali
segala penetapan... hanya yang haq!
***
Read more
pada kelencongan yang telah berlaku. dan turut
ku berlepas dari kezaliman terhadap diri. bahwa
bersaksi Yang Satu itu patut ku junjung utuh.
dan sekali tidak mencari yang sama dengan-Nya.
wahai insan yang bersaksi. telah ada kau dan aku
diberi nikmat yang tidak empunya mereka yang
lebih layak. andai kata amal itu yang ditimbang tara.
dan sekali ini ku bersaksi dan redha tidak sama
sekali pada tali temali bersimpul yang ditiup.
dan pada sesat mereka pada kehendak sendiri.
zalim terhadapnya diri dan pada mereka
yang mengekorinya. bahwa pelepasan ini selanyak
nya kelak ingat diri. suatu yang berlaku pada
yang terkedepan. dan agar dengan bicara ini
saksi pada mereka yang bertasbih. agar peluk ku
pada satu kebenaran yang ku pegang utuh.
dan agar cahaya itu bakal menyinari disepanjang
perjalanan. hingga buntu ia pada tatapan masa.
maka pada penghujung yang berkah, berlalu ku
angkat tadahan merayu. moga terus dilindungi,
moga agar terus hati bersimpati, agar terus
tagih nikmat itu diberi dan sesal diri pada
kesalahan diri. dan padanya harapan itu ku
letak. bahwa apa selayaknya berlaku pasti terjadi.
agar ku dipimpin ke jalan yang selamat. dan
agar dengannya dapat ku bawa umpanya
hati yang lembut untuk turut sama meraih
nikmat-Nya. Moga diperkenan... moga mendapat
yang sebaik2-Nya. dan Dia jugalah kembali
segala penetapan... hanya yang haq!
***
04 Mei 2010
Pilihan Slah?
Posted by Ibnu Sobri at 1:54 PG 0 commentsbertanya ku sendirian,
pada diri,
pada hati kecil ini.
yang derita padanya enggan pergi,
mengapa?
akhirnya sengsara yang kulihat
ku sendiri alaminya,
ya Tuhan bantu ku temui jalan
keluar selamanya.
sesat sendirian yang penghujung
ini tak ku pinta,
kerna dahulu lihat ia dari
kejauhan cukup merasai betapa
punah jika hendak sedemikian rupa.
maka tampak sinar kehendak itunya yang pasti.
tapi merangkak diri kekadang
merasa payah walau hanya satu langkah,
mengapa?
----------------------------------------
epilog
"kerna pilihanku sering salah,
dipilih itu yang memusnah".
mengapa demikian,
tidakkah punya kau mata masa
yang berjaya bawa bangun nusa pada zamannya.
mengapa?
serik ini tak patut,
kerna usia pergi
kembalinya hanya satu mimpi.
mengapa?
seusia yang bisa patut kau renung
enggan menyesal pada benih,
cita-cita yang tanam ia pada
pendukung berikutnya.
mengapa?
dan ku menanti jawapannya.
---------------------------------------
finale
nampak kau bangun suatu yang enggan wujud,
kerna itu bukan kehendaknya.
dan marak api yang kau nyala
kelak bakal bakar dirimu sendiri.
bersedialah!
dan aku yang menanti akan terus
buka mata,
agar tidak sengsara bersama.
wajahmu yang bermain
pada permanain jiwa-jiwa
yang padanya menanti penuh harap.
saksikan yang kesumat itu bukan jawab,
andai ia jawapan yang kau pinta.
dan dunia yang telah kau tolak dari
awalnya tak mungkin kau perolehi
andai kau cuba dengan nyawa.
percayalah,
kulihat wajah letih,
raut tidak senang,
pada dilemma yang kau sendiri bina.
teguh ia goyah pada angin
suara yang melintang.
berhentilah! atau kesal kau
sebagaimana yang telah akui
pilihannya salah senantiasa...
jalan itu masih ada.
-------------------------------------------------
inikah permainan dunia...
***
Read more
pada diri,
pada hati kecil ini.
yang derita padanya enggan pergi,
mengapa?
akhirnya sengsara yang kulihat
ku sendiri alaminya,
ya Tuhan bantu ku temui jalan
keluar selamanya.
sesat sendirian yang penghujung
ini tak ku pinta,
kerna dahulu lihat ia dari
kejauhan cukup merasai betapa
punah jika hendak sedemikian rupa.
maka tampak sinar kehendak itunya yang pasti.
tapi merangkak diri kekadang
merasa payah walau hanya satu langkah,
mengapa?
----------------------------------------
epilog
"kerna pilihanku sering salah,
dipilih itu yang memusnah".
mengapa demikian,
tidakkah punya kau mata masa
yang berjaya bawa bangun nusa pada zamannya.
mengapa?
serik ini tak patut,
kerna usia pergi
kembalinya hanya satu mimpi.
mengapa?
seusia yang bisa patut kau renung
enggan menyesal pada benih,
cita-cita yang tanam ia pada
pendukung berikutnya.
mengapa?
dan ku menanti jawapannya.
---------------------------------------
finale
nampak kau bangun suatu yang enggan wujud,
kerna itu bukan kehendaknya.
dan marak api yang kau nyala
kelak bakal bakar dirimu sendiri.
bersedialah!
dan aku yang menanti akan terus
buka mata,
agar tidak sengsara bersama.
wajahmu yang bermain
pada permanain jiwa-jiwa
yang padanya menanti penuh harap.
saksikan yang kesumat itu bukan jawab,
andai ia jawapan yang kau pinta.
dan dunia yang telah kau tolak dari
awalnya tak mungkin kau perolehi
andai kau cuba dengan nyawa.
percayalah,
kulihat wajah letih,
raut tidak senang,
pada dilemma yang kau sendiri bina.
teguh ia goyah pada angin
suara yang melintang.
berhentilah! atau kesal kau
sebagaimana yang telah akui
pilihannya salah senantiasa...
jalan itu masih ada.
-------------------------------------------------
inikah permainan dunia...
***
12 November 2009
Wahai !
Posted by Ibnu Sobri at 12:29 PG 0 commentsWahai kau yang lebih mengerti,
maka rencana kali ini
sudah pasti dapat buat diri
pusing pening pada maknanya.
tahu bukan malah
tidak ingin lagi
mula satu yang sudah ingin tamat
akan ia, dalam titisan
kenangan yang berlalu.
maka permainan ini ku dapati
tiada noktah.
maka sudah pasti kucuba sedaya
masih belum utuh teguh,
pendirian jika masih diri
uji dia dalam kepayahan
yang tidak tahu mana datangnya.
bukan merintih malah cuba
sedaya buang itu dari sikap
yang perlu dibina kuatnya.
tapi kerna kau namakan,
inilah buah pengajaran,
pada erti yang sebenar,
jika aku ingin bermain dengannya.
ya, besar dalam madah yang telah
bersedia,
tapi cuma kuharap bukan lagi,
mainan perasaan kau mainkan,
kerna itu bisa saja
buat semua terseksa,
walau kau katakan aku,
orang yang mudah sembuh darinya.
tolong, ini permintaan
yang kuharap dikau tunaikan.
kerna ukuran matang itu rapuh
malah mungkin payah.
maka pengajaran harus perlu
berjalan walau kurasa payah.
susah.letih. kerna kau yang mengingatkan.
semoga hidayah itu terus mekar,
pada subur butiran hujan,
yang sejuknya menyegarkan pandangan,
dan turun ia dalam ukuran
yang tak bisa kita tahu dimana
nisbah timbangnya yang sempurna,
buat rata pada yang merasa.
Maha Suci Engkau yang menurunkan
buat pengajaran,
buat peringatan,
buat yang mengetahui,
dan buat yang mengambil teladan.
Read more
maka rencana kali ini
sudah pasti dapat buat diri
pusing pening pada maknanya.
tahu bukan malah
tidak ingin lagi
mula satu yang sudah ingin tamat
akan ia, dalam titisan
kenangan yang berlalu.
maka permainan ini ku dapati
tiada noktah.
maka sudah pasti kucuba sedaya
masih belum utuh teguh,
pendirian jika masih diri
uji dia dalam kepayahan
yang tidak tahu mana datangnya.
bukan merintih malah cuba
sedaya buang itu dari sikap
yang perlu dibina kuatnya.
tapi kerna kau namakan,
inilah buah pengajaran,
pada erti yang sebenar,
jika aku ingin bermain dengannya.
ya, besar dalam madah yang telah
bersedia,
tapi cuma kuharap bukan lagi,
mainan perasaan kau mainkan,
kerna itu bisa saja
buat semua terseksa,
walau kau katakan aku,
orang yang mudah sembuh darinya.
tolong, ini permintaan
yang kuharap dikau tunaikan.
kerna ukuran matang itu rapuh
malah mungkin payah.
maka pengajaran harus perlu
berjalan walau kurasa payah.
susah.letih. kerna kau yang mengingatkan.
semoga hidayah itu terus mekar,
pada subur butiran hujan,
yang sejuknya menyegarkan pandangan,
dan turun ia dalam ukuran
yang tak bisa kita tahu dimana
nisbah timbangnya yang sempurna,
buat rata pada yang merasa.
Maha Suci Engkau yang menurunkan
buat pengajaran,
buat peringatan,
buat yang mengetahui,
dan buat yang mengambil teladan.
04 Oktober 2009
Mengambil Berat
Posted by Ibnu Sobri at 3:42 PG 0 comments
pabila membaca maka hati mengerti,
bicara itu buat siapa.
tapi buat masa ini diri terpaksa sembunyi,
mencari kembali detik dan jejak tapak kaki
yang menghilang.
apakah ini benar tujuanku?
dan apa benar perkara dirancang?
tidak ku mengerti,
tapi sedar hati dan diri perlu lebih kuat,
teguh andai panji ini yang dibawa sampai mati.
Kerna kita berbeza dan kutahu,
siapa disebalik teguh jasadmu berdiri.
dan kenal jua kau siapa,
walau itu hanya kaku gambar yang bisu,
dan kata yang terpaksa kuterjemahkan.
jadi masakan mengenali dengan pasti!
tapi itu sudah cukup.
benar.
Kerna kita cuba mengenali,
dan kau yang mengambil berat,
tak seharus percaya hanya pada angka,
rumusan kefahaman insan yang cetek
sekali ilmunya.
tidak sesekali bisa mencecah kefahaman
hakiki.
Ya, risiko tak semesti membawa
humban diri kepada terjadi,
ya, benar sakit datang tanpa suara,
apa yang bakal terjadi
tetaplah berlaku pada masanya.
dan padam api itu berlaku
pada semua bernyawa.
masakan, takut.
cuma getar andai bekalan
dibawa tidak cukup buat meraih
bahagia disana.
02 April 2009
Bicara
Posted by Ibnu Sobri at 5:33 PG 0 comments
Andai kata kau tutup
pintu suara,
yang padanya
datang suara
pelbagai rupa
pelbagai bahasa
pelbagai nada.
mana mungkin dicari lagi
mana mungkin digapai maksud
mana mungkin dicapai erti
kerna dengar kau seorang
bicaramu sendirian.
***
Andai kata harap kau
diam bicara
yang padanya ku bersuara.
maka yakinlah
bahwa
hati ini takkan patah
berhenti dari mengatakan;
ayat-ayat,
buah akal tak seberapa,
pena yang bergerak senantiasa.
malah kalau
ia terangan,
malah dalam diam.
sedarlah bahwa
harapan kau tak dapat
kupenuh citakan
kerna suara hati yang berkata
kelak ditanya.
malah pada waktu
yang bukan lidah lagi
yang bersuara.
Sedar dan yakinlah!
Maka maaf
andai didik hati tak terbiasa
dengan nikmat yang melimpah
dan lembut layanan
yang mendakap dada.
Seraya mulut
malah gertak akan
sentiasa ada.
kerna padanya
datang kita berkumpul
pada satu jawapan
bukan menurut
kemahuan kebanyakan
malah lebih
datang rumusan
yang adil senang
ramai merayakan,
mempraktikkan.
dan tunjuk kita luhur
budi pekerti yang kita
'canangkan'.
bukan untuk menunjuk
bukan untuk mempamer
dan bukan atas 'gema' hipokrasi.
kerna andai faham diri sebegitu
maka cananglah,
dan canaglah,
terus mencanang.
kerna kemahuan tak terdidik
maka hati keras
kelak tak datang lagi
cahaya yang menerangi.
Maka maaf andai
diri tak dapat menurut kemahuan.
malah maaf andai diri
tak mengikut ajaran.
kerna apa yang benar
akan senantiasa berlaku
walau pahit
datang menjejak,
menghapus,
memayungi.
Maka kau kusayang.
Lebih dari yang kau pamerkan.
kerna faham diri
baik balasan buat si pemurah,
dan kudung tangan si bakhil......
pintu suara,
yang padanya
datang suara
pelbagai rupa
pelbagai bahasa
pelbagai nada.
mana mungkin dicari lagi
mana mungkin digapai maksud
mana mungkin dicapai erti
kerna dengar kau seorang
bicaramu sendirian.
***
Andai kata harap kau
diam bicara
yang padanya ku bersuara.
maka yakinlah
bahwa
hati ini takkan patah
berhenti dari mengatakan;
ayat-ayat,
buah akal tak seberapa,
pena yang bergerak senantiasa.
malah kalau
ia terangan,
malah dalam diam.
sedarlah bahwa
harapan kau tak dapat
kupenuh citakan
kerna suara hati yang berkata
kelak ditanya.
malah pada waktu
yang bukan lidah lagi
yang bersuara.
Sedar dan yakinlah!
Maka maaf
andai didik hati tak terbiasa
dengan nikmat yang melimpah
dan lembut layanan
yang mendakap dada.
Seraya mulut
malah gertak akan
sentiasa ada.
kerna padanya
datang kita berkumpul
pada satu jawapan
bukan menurut
kemahuan kebanyakan
malah lebih
datang rumusan
yang adil senang
ramai merayakan,
mempraktikkan.
dan tunjuk kita luhur
budi pekerti yang kita
'canangkan'.
bukan untuk menunjuk
bukan untuk mempamer
dan bukan atas 'gema' hipokrasi.
kerna andai faham diri sebegitu
maka cananglah,
dan canaglah,
terus mencanang.
kerna kemahuan tak terdidik
maka hati keras
kelak tak datang lagi
cahaya yang menerangi.
Maka maaf andai
diri tak dapat menurut kemahuan.
malah maaf andai diri
tak mengikut ajaran.
kerna apa yang benar
akan senantiasa berlaku
walau pahit
datang menjejak,
menghapus,
memayungi.
Maka kau kusayang.
Lebih dari yang kau pamerkan.
kerna faham diri
baik balasan buat si pemurah,
dan kudung tangan si bakhil......
29 Mac 2009
KuTunggu
Posted by Ibnu Sobri at 4:07 PG 0 comments
Semalam.
Perjalanan jauh.
Kerja gila.
Sendiri seorang.
Ketika itu.
Hina diri.
Tak punya apa.
Dan hilang
sandaran.
Maka layakkah
ku lalui
panjang perjalanan
pada masa mendatang
kiranya datang waktu
ia memberiku laluan.
Maka Tuhan,
berikan panduan.
Tetapkan iman.
Luruskan pegangan.
Agar tak hilang
arah tujuan.
berikan panduan.
Tetapkan iman.
Luruskan pegangan.
Agar tak hilang
arah tujuan.
.
ps: Thanks for helping
...
...
01 Januari 2009
Mentaliti
Posted by Ibnu Sobri at 8:36 PG 0 comments
hadir
anak ibarat kain putih
dan ibu bapalah yang mencorakkan
jadi apalah salah si anak kecil
yang suci murni naluri
tidak tercemar
dan sejak bila
insan jadi penghukum
buat sesuatu
dan bukankah tiap perkara
telah ditetapkan kadarnya
oleh Tuhan empunya alam
dan hukum Tuhan
di dalam kalam-Nya
ada menyeru
bahwa anak itu suci
dan ibu bapa
yang menentukan ia nasara
mahupun majusi
link buat tatapan halwa telinga
Raihan - Anak Permata
...
Sila ke link berikut untuk membaca artikel penuh
Mentaliti
...
29 Disember 2008
Pabila Diri Lupa
Posted by Ibnu Sobri at 6:11 PTG 4 comments
Hati terdetik untuk bersuara selepas membaca artikel di bawah.aku percaya yang kita tak banyak berbeda dalam pengertian
bahwa penyakit hati itu telah meresap
dan ubatnya tiada
melainkan agama yang dibiar subur di dalam jiwa
maka paham agama telah jauh lari
akibat nafsu duniawi yang menerpa
kerna itu amalan dilaku hanya tagih sementara nikmat dunia
maka mata buta tak terlihat betapa indah hidup dunia tak bersempadan
dan bahagia nikmat yang tiada tanding taranya
pabila mahmudah hilang
maka yang kau lihat hanya amarah yang gila
dan tujuan hanya kembali pada dirinya
terlupa yang kita khalifah berbakti buat ummahnya
asbab itu harus kita kembali
meneliti diri dan membangun mentaliti
bahwa dunia akan sirna
dan kehidupan yang kekal hanyalah disana
maka rebut peluang
membetul niat
mengguna segala saluran buat menambah amalan
agar tak menyesal di hari kemudian
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Menyoroti Sastera, Politik dan kemungkinan
Pelbagai acara telah kita lalui tahun ini dengan berhasil sekali. Ada yang merasa kepuasannya, ada yang merasa kejengkilannya dan ada juga yang sentiasa merasakan ada yang tidak kena. Semuanya kerana hati dan kepala kita lain dan Tuhan sentiasa menduga kita. Samada dalam hati kita ini baik atau busuk, kita sendiri yang lebih tahu sesuatu yang tersirat. Pokoknya, kita harus selalu belajar mentafsir dan menilai. Manusia ini tidak henti-henti bermain dengan sentimen, rasa dan keinginan untuk sentiasa melihat kurang orang dan kurang sendiri bagaikan lansung tidak ada. Jika kita rasa kita dominan, begitulah kita, sentiasa mahu dilihat dan sentiasa mahu diberi perhatian. Saya fikir sikap sebegini adalah penyakit, penyakit hati dan perasaan yang banyak disaluti keengganan melihat orang lain untuk juga ingin berjaya. Dunia sastera kita juga begitu, semakin kita pandai dan mapan, penyakit baru pula muncul, kita sudah terlalu menampakkan taring ego kita yang berlebihan, menidakkan hal-hal baik yang orang lakukan dan lupa dulunya kita pernah berada dalam segala kekurangan itu. Kita tidak perlu lagi ungkit itu salah si anu, silap si anu tetapi banyakkanlah niat kita untuk kembali berjuang meninggikan mutu karya sastera kita. Jika kita tidak berminat untuk memajukan persatuan kita, simpan dalam hati kita untuk memajukan diri kita sendiri sahaja dan menulislah sebaik-baiknya. Biar yang pandai berpersatuan memajukan persatuan penulis. Kita kena ingat, kita berjuang ikut kemampuan dan kapasiti kita dan jangan samasekali kita gunakan bakat dan kedudukan kita untuk menidakkan peranan orang lain dan menggunakan segala saluran itu untuk mengaut semuanya untuk diri. Jika begitu kita jadi ketua, hayatnya tak lama dan kita menjadi bahan kutukan. Bijak manapun kita, pandai manapun kita, hebat manapun kita, semuanya itu Tuhan pinjamkan. Kita tidak perlu terlalu banyak politik dalam segala tindak-tanduk kita kerana ia bukan matlamat perjuangan anak seni yang inginkan idealisme yang baik, yang manusiawi atau yang lebih jernih sifatnya. Kemungkinan untuk esok banyak yang tidak mampu kita tafsirkan lagi. Dunia pantas berubah dan sikap manusia baru sukar untuk kita ramalkan lagi kerana manusia kini lebih memilih untuk merosaki dirinya. Jangan hairan semakin ramai yang sudah bersiap sedia untuk mati bunuh diri. Jika jalan ini yang kita pilih, kita akan menghancurkan segala yang murni, yang lebih sabar dan tabah. Jalan yang kita pilih banyak yang salah sedangkan kita diberikan segala sifat yang baik untuk berfikir dan bertindak . Negara kita akan hancur jika rakyatnya tidak lagi berdisiplin dan enggan hidup dalam harmoni. Peranan kita makin penting dan kita harus berada dalam arus manusiawi ini. Menjadi golongan yang luas ruang fikir dan politik bukan permainan licik kita. Kepelbagaian yang kita bangga-banggakan itu semestinya digunakan untuk mengurangkan rasa ketulinan kita ketika melihat kulit diri tetapi perlu dirasionalkan dengan rasa lebih sederhana bahawa kita manusia wala apapun darah keturunan kita adalah sama di sisi Tuhan. Berhenti menjadi manusia yang tebal kesukuan atau kedaerahannya, kita adalah satu bangsa, satu warga dunia yang inginkan kedamaian, itu yang lebih bermakna.
Langgan:
Catatan (Atom)


